Bercengkrama dengan Satwa Karst Di Rimba Malam

Klikhijau.com - Bekerja sebagai petugas taman nasional mengharuskan selalu bergelut dengan alam liar. Rimbunnya pepohonan, terjalnya medan hingga mencari tahu sarang binatang liar. Orang lain serin...

Bercengkrama dengan Satwa Karst Di Rimba Malam
Bacakan Artikel

Satu kilometer sebelum sampai tujuan kami melintasi sungai melalui jembatan yang berdiri megah. Jembatan ini dibangun pihak taman nasional beberapa tahun silam.

Selain memudahkan wisatawan menuju batu terbalik yang berlegenda, juga bermanfaat bagi warga yang menetap di Dusun Tallasa, Desa Samangki, Simbang, Maros. Penduduk setempat yang menetap di zona khusus taman nasional.

Sebelum Magrib, tim telah tiba di lokasi camping ground. Tepat barada di sempadan sungai. Hanya sepelemparan dari bisseang labboro. Tak ada waktu berleha-leha. Tim dengan kompak mendirikan tenda.

Satu dua orang dari kami menyiapkan dapur umum. Ada juga yang mulai menggantung tali hammuknya. Lainnya menyibak tumbuhan perdu di areal mendirikan tenda.

[irp posts="2602" name="Gelar Aksi Bersih, Balai TN Bantimurung Bulusaraung Kumpulkan 10 Ton Sampah"]

Saat alarm salat dari salah satu tim berbunyi, tenda telah berdiri rapi. Kawan yang bertugas di dapur pun telah memulai tugasnya. Setelah menunaikan salat, tim pun berkumpul, menyusun rencana. Membangi tim mengamati satwa malam: Tarsius fuscus.

Salah satu satwa endemik Pulau Sulawesi. Tim memantau populasi sang satwa pada malam hari.

Tarsius adalah kelompok satwa malam. Ia beraktivitas di malam hari, siang justru ia manfaatkan untuk beristirahat. Pengamatan dimulai saat tarsius memulai aktivitas sore hari dan kembali ke sarang menjelang pagi.

Saya sendiri satu regu dengan Pado. Bertugas mengamati tarsius di salah satu sarangnya yang berada di tebing batu gamping. Regu lain terbagi ke sarang-sarang yang berada tak jauh dari lokasi tenda berdiri.

Lepas santap malam tim berpencar menuju lokasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Derik tonggerek berpadu suara jangkrik bersahutan. Sesekali sahutan burung hantu terdengar. Memainkan orkestra alam yang merdu.

Pado berjalan di depan. Ia berjalan mantap. Menyibak liana yang meninggi. Ia tak menghiraukan jalan yang tak rata. Bermodal senter kepala dan kamera, ia terus mendekati sarang sang satwa malam.

Tepat di kaki karst yang mulai menjulang, Pado menghentikan langkahnya. Ia mengamati sekeliling. โ€œDi sekitar sini sarangnya.โ€ Pado menunjuk ke arah tebing batu gamping.

[irp posts="3450" name="Peringati Hari Ketiadaan Tanah, SPTR Suarakan Sulsel Darurat Agraria", Ini 9 Tuntutannya!"]

Ia terus mencari sosok satwa incaran. Terus mendongak, mengarahkan senter ke kiri dan ke kanan. Liana yang memilitnya tak ia hiraukan. Terus berangsek mendekati dinding tebing.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: