Bercengkrama dengan Satwa Karst Di Rimba Malam

Klikhijau.com - Bekerja sebagai petugas taman nasional mengharuskan selalu bergelut dengan alam liar. Rimbunnya pepohonan, terjalnya medan hingga mencari tahu sarang binatang liar. Orang lain serin...

Bercengkrama dengan Satwa Karst Di Rimba Malam
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Bekerja sebagai petugas taman nasional mengharuskan selalu bergelut dengan alam liar. Rimbunnya pepohonan, terjalnya medan hingga mencari tahu sarang binatang liar.

Orang lain seringkali menganggap hal semacam itu aneh, atau bahkan menganggap kurang kerjaan. Namun, itulah tuntutan sebagai petugas rimba.

Menjelajah rimba seolah tak ada habisnya. Seperti halnya pada pertengahan Oktober 2018 lalu, saya berkesempatan menjelajah alam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kali ini kami diharuskan menyibak belantara hutan batu gamping di malam hari.

Berkelana di alam seringkali tak dapat diprediksi hasil atau apa yang akan terjadi. Kami sengaja mencari satu jenis satwa tetapi justru jenis lain yang kami temukan.

Sore itu selepas Ashar, saya bersama tim bersiap melakukan survey satwa. Kami berencana menetap di hutan untuk beberapa hari. Kami lantas menyiapkan tenda, matras, peralatan dapur serta runsum untuk beberapa hari.

Setelah tim berkumpul, kami berangkat berbarengan menuju spot pengamatan. Lokasi yang kami tuju tak begitu jauh, hanya sekitar tujuh kilometer dari kantor balai taman nasional.

Hanya saja wilayah ini tak terjangkau signal telepon selular. Kondisi tersebut membuat tim seolah menghilang sejenak dari hingar-bingar dunia luar.

[irp posts="2322" name="Mengintip Satu Abad Tata Kelola Bantimurung"]

Tidak sampai setengah jam kami telah sampai di ujung aspal menuju spot. Kami berbelok ke arah kanan sebelum menapaki jalan layang Pattunuang.

Keluar dari jalan poros. Kami disambut susunan rapi paving blocks. Hingga akhirnya kami tiba tepat di depan kantor Resor Pattunuang. Memarkir kendaraan kemudian mulai berjalan menyusuri susunan paving yang diperuntukan untuk wisatawan. Akhirnya kami tiba Kawasan Wisata Pattunuang.

Kawasan Wisata Pattunuang terkenal dengan cerita legendaris batu terbaliknya: Bisseang Labboro. Tak sedikit komunitas pecinta alam dari berbagai perguruan tinggi menjadikan lokasi ini untuk gelar pendidikan dasar. Mengenalkan alam kepada calon-calon perwira rimba.

Sungai Pattunuang yang membelah gugusan batu gamping menjadi daya pikat. Beragam satwa liar bergantung pada aliran air yang tak pernah mengering ini. Serangga, reptil, mamalia hingga manusia sendiri juga bergantung dari alirannya.

Tiba di Dusun Pattunuang, kami mendapat sambutan hangat dari Pado, petugas resor. Bercengkrama sejenak dengan penduduk setempat sembari melepas dahaga.

Kami lalu melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan setapak berpaving sepanjang sempadan sungai. Sesekali kami mendapati soa-soa (Hydrosaurus amboinensis).ย  Menyadari kedatangan kami, mereka berlari, menghindar. Satu dua menyeberangi sungai.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: