Klikhijau.com – Jika kamu pernah berkunjung ke Kabupaten Jeneponto, apa yang kau ingat tentangnya? Atau apa yang kamu perhatikan mengenainya? Saya sangat sering berkunjung ke daerah Selatan dari Makas...
Klikhijau.com – Jika kamu pernah berkunjung ke Kabupaten Jeneponto, apa yang kau ingat tentangnya? Atau apa yang kamu perhatikan mengenainya? Saya sangat sering berkunjung ke daerah Selatan dari Makassar itu.
Ingatan dan perhatian saya tak pernah lepas dari
pohon lontar dan juga
ballonya. Jika kamu pernah menelusuri jalan poros Jeneponto menuju Bulukumba, kamu akan temukan minuman yang digantung di pinggir jalan dalam kemasan botol plastik.
Sekilas minuman tersebut mirip dengan susu putih, tapi jangan terkecoh, itu bukan susu, tapi
ballo atau tuak yang disadap dari pohon lontara atau tala’.
Masyarakat Jeneponto menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan gula merah, dan tentu saja sebagian diminum. Konon
ballo tala yang manis baik untuk kesehatan.
[irp posts="739" name="Pohon Lontara Bukan Hanya Tentang Ballo', Ini Fakta Lainnya"]
Kelayakan pengembangan Bioetanol dari ballo tala
Ballo tala, kerap mendapat tanggapan negatif dari banyak orang, sebab bisa menimbulkan efek mabuk kepada yang meminumnya. Tapi, anggapan negatif itu bisa luntur ke depannya. Sebab, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM) RI sudah menyelesaikan studi kelayakan pengembangan Bioetanol dari
ballo tala di Jeneponto.
Ya, tim badan penelitian dan pengembangan pusat penelitian dan pengembangan teknologi ketenagalistrikan, energi baru terbarukan dan konservasi energi, menyimpulkan pohon tala Jeneponto memenuhi syarat untuk jadi bahan baku bioetanol.
"Saya baru mendengarkan hasil presentasi dari tim Kementerian ESDM, ternyata pohon lontar kita memenuhi syarat," kata inisiator Bioetanol Jeneponto, Mukhtar Tompo, Jumat, 22 Februari 2019 lalu.
Kementrian ESDM pun sudah merancang industri pengolahan
ballo menjadi bioetanol. Pabrik bioetanol terintegrasi dengan kebun lontar/tala yang didekasikan untuk sumber bahan baku pabrik.
Karena
ballo akan dikelola menjadi bioetanol melalui pabrik, maka tentu dibutuhkan penderes atau petani penyadap
ballo. Tak tanggung-tanggung dibutuhkan sebanyak 1.176 orang, tenaga kerja pabrik 80 orang dengan gaji rata-rata petani sebesar Rp 3 juta.
"Ini gajinya sudah lumayan kalau untuk petani karena selama ini penghasilan mereka tidak tetap," katanya.
[irp posts="2655" name="Peneliti AS Temukan Cara Hasilkan Tanaman Lebih Besar dari Seharusnya"]
Agar pabrik bisa beroperasi dengan normal, maka dibutuhkan lahan pohon tala seluas 70 hektar. Saat ini, Kementerian ESDM membutuhkan investasi sebesar Rp 76 miliar.
Untuk saat ini, Kementerian ESDM bersama Pertamina membutuhkan investor untuk membangun pabrik ini.
"Kami mendorong Pertamina untuk segera mencari investor," katanya.
Gagasan Kementerian ESDM itu mendapat respons dari politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Mukhtar Tompo. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Jeneponto mendukung pembangunan pabrik.
Permintaan Rusdin disambut positif Pemkab Jeneponto. Syafruddin Nurdin selaku Sekretaris Daerah Pemkab Jeneponto mengatakan akan mendukung penuh pengembangan bioetanol tersebut.
"Kita akan dukung ini, dan Pemerintah akan mendukung penuh pembangunan dan pengembangan industri bioetanol," tegasnya.
Kelak jika saya atau kamu berkunjung ke Jeneponto, barangkali tak akan lagi melihat
ballo bergelantungan di pinggir jalan menunggu pembeli singgah.
[irp]