Bagaimana Sampah Sachet Merajai Rumah Kita?

Bagaimana Sampah Sachet Merajai Rumah Kita?
Kegiatan brand audit di kawasan sungai Balantieng (Dok: Ecoton, 2024)
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kalian sadar nggak sih, kalau kehidupan sehari-hari kita itu sering kali menggunakan berbagai jenis produk kemasan sekali pakai. Di rumah, sering kali kita menggunakan bungkus sachetan seperti kopi, sampo, bumbu dapur, mie instan, serta kemasan snack atau jajanan lainnya.

Kenapa kita sering kali menggunakan produk tersebut karena lebih mudah ditemukan dan praktis digunakan tetapi kita tidak fikirkan bahwasanya setalah habis digunakan atau di makan, kemasannya akan menjadi sampah yang perlu dikelola. 

Ketika saya sadar dan memperhatikan bahwa kebiasaan   dirumah ini membuat saya semakin sadar bahwa sampah yang telah digunakan sering kali langsung masuk ke tempat sampah. Setelah kopi yang sudah diseduh, sampo habis digunakan, bumbu dapur dipakai, atau jajanan yang selesai dimakan, kemasannya biasanya tidak dipisahkan berdasarkan jenisnya dan tidak diolah kembali. Kebiasaan ini terasa biasa karena praktis dan sudah menjadi bagian dari keseharian. 

Namun, setalah itu saya berfikir bahwa kebiasaan ini mulai menyadari saya, bahwa sampah yang langsung saya buang belum tentu selesai persoalannya. Saya tidak tahu ke mana sampah tersebut dibuang setelah diangkut oleh petugas dan bagaimana proses pengelolaannya.

Padahal, jika terus dihasilkan setiap hari. Kemasan-kemasan ini akan akan menumpuk dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini yang membuat saya berpikir bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan rumah, tetapi kita juga harus memikirkan bahwa bagaimana sampah dikelola ketika sudah meninggalkan lingkungan tempat tinggal kita.  

Berdasarkan artikel Sachet yang diterbitkan Aliansi Zero Waste Indonesia kemasan sachet umumnya menggunakan beberapa lapisan bahan yang membuatnya suli didaur ulang melalui proses biasa. Hal ini menjadi persoalan ternyata tidak semua kemasan sachet dapat diolah kembali dengan mudah.

Ketika kemasan tersebut tidak dapat dikelola dengan baik, maka sampah tersebut berpotensi mencemari lingkungan, seperti akan tercecer ke tanah, terbawa air hujan ke saluran drainase, atau akan berakhir ke sungai atau laut. Dari informasi inilah yang membuat saya berpikir bahwa kemasan yang terlihat kecil ini ternyata memiliki persoalan tersendiri setelah menjadi sampah, maka dari itu seharusnya jangan dianggap sepele. 

Masalah sampah jelas tidak bisa dibebankan ke satu pihak saja. Kebiasaan masyarakat memang krusial, tapi tanggung jawab produsen juga memegang peranan kunci. Rencana Kementerian Lingkungan Hidup yang menyiapkan aturan wajib kelola limbah kemasan bagi produsen menegaskan hal itu, menangani sampah tidak cukup hanya mengandalkan masyarakat di hilir. Produsen harus ikut pasang badan mengurus sisa dari produk yang mereka jual, terutama kemasan yang susah didaur ulang.

Namun, di tingkat rumah tangga, kita juga tidak bisa tinggal diam. Saya sadar perubahan besar justru dimulai dari dapur dan meja makan keluarga sendiri. Kita bisa mulai beralih ke produk refill mulai dari sampo, kopi, sampai bumbu dapur. Memilih ukuran yang lebih besar sesuai kebutuhan atau membawa wadah sendiri saat jajan jadi langkah nyata untuk memotong rantai kemasan sekali pakai.

Langkah berikutnya adalah disiplin memilah. Kemasan yang punya nilai daur ulang dipisahkan, sementara yang sulit didaur ulang disalurkan ke fasilitas pengelolaan yang tepat. Tentu, skema ini akan jauh lebih efektif jika pemerintah dan produsen konsisten menyediakan pilihan kemasan ramah lingkungan serta memperkuat sistem pengumpulannya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan