Green Life Style Versi penuh
Sastra Hijau

Bagaimana Cara Pepohonan Makan?

Riwayat Pohon-Pohon   Dalam dua bola mata kecil kanak-kanakmu Pepohonan meriwayatkan dirinya Tentang kejayaan masa lalu Dan umur panjang Manusia dulu belumlah seberakal sekarang Tak me...

Oleh Nona Reni 17 Sep 2022 03:45 2 menit baca

Riwayat Pohon-Pohon

  Dalam dua bola mata kecil kanak-kanakmu Pepohonan meriwayatkan dirinya Tentang kejayaan masa lalu Dan umur panjang Manusia dulu belumlah seberakal sekarang Tak menghabisi pohon dengan alat-alat canggih Mereka bisa hidup berpuluh-puluh tahun Bukan hanya dalam ingatan orang-orang di masa kakek nenekmu Di dalam bola mata kecil itu, anak-anak masih bermain layangan Bukan bermain dengan kayu gelondongan Dan akar-akar pohon masih menancap kuat tak terkalahkan Meski angin senantiasa menjadi ancaman. Bukankah telah sampai riwayat pohon itu padamu Padamu yang lebih sering membuang sampah sembarangan Di pinggir kali misalnya Atau di atas kendaraan ketika kau menjadikannya satu kebebasan tak berdasar Kenapa? Kenapa pohon harus dipangkas Dan kenapa pohon menjadi omongan yang tak lagi ada dalam kelas maupun pelajaran-pelajaranmu? Tak ada jawaban darimu Tak ada, dan kelak mungkin tak kan benar-benar ada Malino, 2022 [irp]

Dalam Segalamu

  kau menertawai orang yang naik motor memakai helm sepeda orang itu datang dari jauh membawa polusi lebih dekat pada napasmu. ia datang membersihkan paru-parunya dari polusi kota harusnya kau tak tertawa, harusnya menangis pada deru motornya penyakit sedang ditebar ke kampungmu yang hijau. polusi yang di bawanya naik ke angkasa lalu turun jadi hujan bermukim pada mata air yang mengalir ke kamar mandimu pagi hari atau lima belas menit sebelum senja kau akan mandi atau memasak air untuk menyeduh kopi polusi yang dibawa orang yang kau tertawakan itu, yang datang membersihkan mata dan paru-parunya dari polusi kota berhijrah ke dalam segalamu September 2022 [irp]

Bagaimana Cara Pepohonan Makan?

  Kita tiba pada satu warung persis di satu belokan menanjak ke Malino Aku selalu bertanya, untuk kali ini kenapa harus singgah di situ? Kau akan menjawab bahwa untuk sejahtera, perut harus kenyang. Pikiranku teralihkan pada satu bangku panjang Menikmati mobil dan motor berlalu lalang di sana mungkin tak senikmat memandangi kota dari jendela hotel bintang lima Bagaimana pepohonan, alam, dan bumi makan? Tanyaku ketika kau selesai memesan 2 porsi makanan Mungkin sama seperti kita, jawabmu. Aku masih saja terus penasaran Menunggu kau memberikan jawaban yang masuk di akal Sementara kau sudah terlalu serius menikmati seporsi nasi hangat di depan matamu. Bagaimana cara mereka makan? Ulangku. Tanya saja gawaimu, balasmu lagi Namun lagi-lagi, gawaiku juga gagal memberi jawaban. Segagal deru mesin dan knalpot itu menyuarakan aspirasi pegiat lingkungan kemarin di balai desa Sept 22 [irp]
Topik terkait
#puisi #puisi lingkungan #puisi dan ekologis #sastra dan lingkungan #riwayat pepohonan