Apa Itu “Slow Fashion”? Paradigma Berkelanjutan dalam Produksi Fesyen
Klikhijau.com – Selain istilah fast fashion, ada lagi nih istilah lain yang juga penting dipahami Sahabat Hijau, yakni fesyen lambat alias “slow fashion”. Di dunia mode, narasi ini diperkenalkan se...
Klikhijau.com – Selain istilah fast fashion, ada lagi nih istilah lain yang juga penting dipahami Sahabat Hijau, yakni fesyen lambat alias “slow fashion”.
Di dunia mode, narasi ini diperkenalkan sebagai reaksi keras atas mode cepat (fast fashion) yang mengabaikan aspek sustainability. Dari sini mulai terlihat visi dari pendekatan ini bukan?
Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa “slow fashion” atau fesyen lambat
merujuk pada paradigma berkelanjutan dengan kesadaran (mindful) dalam produksinya.
Hal itu ditunjukkan dengan menggunakan bahan ramah lingkungan atau bahkan tekstil daur ulang. Pakaian ini diamsusikan lebih tahan lama dan berkualitas tinggi. Bukan itu saja, mulai dari pembuatan hingga pengiriman, semuanya diperhatikan dengan seksama.
[irp]
Ilustrasi - Foto/Hiduptanpasampah[/caption]
Jadi, fesyen lambat tidak berfokus pada kecepatan produksi dan kuantitasnya sebagaimana pendekatan yang dipakai fesyen cepat. Pendeknya, fesyen lambat adalah kebalikan dari fast fashion.
Jika fast fashion lebih fokus pada bagaimana mengejar profit setinggi-tingginya dengan biaya produksi seminimal mungkin, fesyen lambat justru sebaliknya.
Fokus utama dari fesyen lambat adalah pada bagaimana menjadikan seluruh proses dari produksi hingga pemakaian menjadi berkelanjutan. Begitu pula pada aspek lain yang juga diperhatikan detail seperti tenaga kerjanya dan dampak lingkungan selama proses produksi.
[irp]
Meski prosesnya dibuat dengan sangat hati-hati, namun produksi mode fesyen lambat tidak ingin mengorbankan kualitasnya.
Visi kunci dari slow fashion adalah bagaimana mengatasi rantai pasok yang massal dan pola konsumsi yang buruk. Istilah ini diperkenalkan oleh Kate Fletcher, Profesor of Sustainability, Design, and Fashion at the University of the Arts London’s Centre for Sustainable Fashion.
Apa bedanya dengan fast fashion?
Dikutip dari laman ZeroWaste, fesyen lambat adalah praktik produksi fesyen yang berbasis pada rentang waktu relatif lama, berorientasi pada daya tahan dan kualitas tinggi. Paling penting adalah paradigma yang digunakan dalam produksinya sangat memperhatikan etika dan memastikan segalanya sangat ramah lingkungan. [caption id="attachment_20618" align="alignnone" width="840"]Ciri produksi slow fashion
Seperti ditekankan di pembahasan awal bahwa fesyen lambat tidak terlalu terburu-buru. Sebab yang terpenting di sini adalah kualitas dan memastikan segala elemennya tak mengabaikan aspek lingkungan. Secara spesifik, perusahaan dengan pendekatan slow fashion ditandai dengan ciri khusus yakni produksinya lambat dan desainnya tak menghasilkan limbah. Bahkan, paradigma ini dibuat secara sengaja untuk melawan tren limbah produksi pakaian. Ciri lainnya adalah perusahaan dengan pendekatan slow fashion tidak ikut pada arus tren yang ada. Namun, mencoba menghasilkan mode yang tak lekan waktu sehingga konsumen dapat dipakai lebih lama bahkan seumur hidup. Umumnya fesyen lambat sangat kental dengan model khas yang otentik, terbatas dan spesifik yang dihasilkan tidak lebih dari 3 kali per tahunnya. [irp] Selain bahan dan desainnya, fesyen lambat umumnya diproduksi secara lokal demi memastikan rantai pasok dan kesejahteraan pekerjanya. Produknya bahkan tidak masuk dalam jaringan global atau brand ternama.Bagaimana menerapkan konsep fesyen lambat?
Lalu, bagaimana sih menerapkan gerakan slow fashion? Rupanya tidak rumit loh Sahabat Hijau. Simak beberapa langkah berikut ini yang dapat diterapkan dalam keseharian?-
Pakailah apa yang ada dalam lemari
-
Mengubah minset tentang membeli baju
-
Mencari tahu brand slow fashion