Bagaimana Mengakali Limbah Fast Fashion?

oleh -126 kali dilihat
Bagaimana Mengakali Limbah Fast Fashion
Sampah pakaian - Foto/nytimes.com
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Fast Fashion tengah menjadi kebiasaan baru di masyarakat pasca industri. Tren berpakaian yang semarak dan cepat berubah menjadi salah satu faktor kunci berkembangnya fast fashion.

Selain itu, perkembangan teknologi yang memudahkan produksi pakaian massal membuat banyaknya brand fashion bertebaran di pasar-pasar fashion dengan masing-masing produknya.

Fast Fashion dapat dimaknai sebagai kebiasaan berbelanja produk pakaian secara massif mengikuti tren fashion di masyarakat. Tren Fast Fashion merupakan produk dari praktik konsumerisme yang dibangun oleh perusahaan fashion selama beberapa tahun terakhir.

Umumnya, perkembangan fashion dapat dilacak sejak memasuki medio tahun 2000. World Bank mencatat setidaknya pada tahun 2000 ada 50 miliar pakaian baru diproduksi dan terus mengalami peningkatan konsumsi sebanyak 60% hingga hari ini.

Sebagian besar dari pakaian-pakaian ini kemudian berakhir dengan terbuang di pembuangan akhir dan menjadi limbah sampah.

Industri Fast Fashion berkembang pesat seiring maraknya aktivitas online shopping di situs jual beli daring. Selain tren fashion yang begitu update di toko daring, harga yang terjangkau dan pelayanan yang cepat (fast serve) menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli.

KLIK INI:  Buka Gerai Baru di Makassar, H&M, Fashion Shop dengan Konsep Ramah Lingkungan

Industri fast fashion berjalan beriringan dengan permintaan yang pesat dari konsumen. Setiap orang bisa saja memiliki lebih banyak pakaian yang tersimpan di dalam kamarnya lebih dari kebutuhan pakaian yang digunakannya sehari-hari.

Meski begitu, selalu ada konsekuensi dari banyaknya eksploitasi untuk memenuhi tingginya permintaan suatu produk.

Dampak terhadap lingkungan

Celakanya, tingginya konsumsi fast fashion berbanding lurus dengan produksi tekstil besar-besaran yang tak jarang berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan. HMHI UI dalam tulisannya di Circle edisi kedua menganalisis beberapa dampak ekologis dari budaya fast fashion yang marak belakangan ini.

Dalam artikelnya di medium.com, HMHI UI melihat ada beberapa permasalahan yang ditimbulkan dari budaya fast fashion. Jika dibiarkan tanpa strategi penanganan, pencemaran limbah-limbah fashion mengancam kehidupan mahluk bumi beberapa waktu kedepan.

Limbah buangan pewarna tekstil dapat mencemari sungai yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat sekitar pabrik dan juga menganggu ekosistem di sekitar sungai.

KLIK INI:  Temukan Alasan Sederhana Ini untuk Tak Beli Baju Lebaran!

Bahan baku produksi tekstil berasal dari serat polyester menggunakan senyawa kimia yang menghasilkan microfiber, penghasil microplastik yang banyak terbuang di lautan. Celakanya, microfiber plastik yang tesapu ombak di lautan tak dapat terurai.

Hal yang dikhawatirkan ketika hewan laut yang di konsumsi manusia menyimpan microplastik dalam tubuhnya yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Data dari UNEP dan Ellen MacArthur Foundation menjelaskan, “Setiap tahun industri fashion menggunakan 93 miliar meter kubik air – cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lima juta orang. Sekitar 20% air limbah di seluruh dunia berasal dari pewarnaan dan perawatan kain. Dari total input serat yang digunakan untuk pakaian, 87% dibuang ke tempat pembuangan akhir,” dikutip dari artikel worldbank.

Selain limbah produksi, limbah sampah fashion juga mengancam kelestarian ekologis. Penumpukan sampah pakaian di satu tempat dalam jumlah banyak mencemari tempat tinggal manusia dan menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit.

KLIK INI:  Telur Anti Corona: Humor dan Rumor dalam Masyarakat Indonesia
Trik mengakali limbah fast fashion

Barangkali tanpa disadari, kebiasaan berbelanja pakaian baru tanpa didasari akan kebutuhan bisa berakibat fatal bagi lingkungan sekitar. Namun, hal ini bukan berarti tak ada harapan bagi masa depan kaum pengagum sandang. Selalu ada cara untuk mentaktisi keadaan, termasuk dengan menerapkan gaya berpakaian ramah lingkungan.

Arlinda Verawati termasuk salah seorang yang menerapkan gaya berpakaian berkelanjutan. Melalui media instagram, Linda sapaan akrabnya secara rutin berbagi pengalamannya dalam mengakali tumpukan pakaian tak terpakai miliknya.

Dirinya memaknai aktivitas produksi fast fashion itu berdampak buruk bagi lingkungan, “Fast Fashion itu industri tekstil yang memiliki banyak model fashion yang silih berganti dalam waktu singkat, menggunakan bahan baku buruk dan tidak tahan lama,” sapa alumni Fakultas Teknik Unhas ini.

Menyadari bahaya belanja fast fashion secara besar-besaran, Linda berbagi beberapa tips untuk meminimalisir sekaligus mencegah kerusakan akibat limbah industri fashion ini.

“mulanya bisa dengan menggunakan kembali pakaian yang kita miliki. Bisa juga dengan bertukar baju dengan teman atau siapa saja. Selain itu, membeli pakaian bekas atau thrifting bisa mengurangi limbah sampah dan memperpanjang umur pakaian,” jelasnya.

Meski begitu, Linda memahami betul kebutuhan fashion setiap orang. Oleh karenanya, ia menyarankan untuk membeli produk fashion buatan lokal yang ramah terhadap lingkungan,” Kalau memang harus beli, beli dari brand fesyen lokal berkelanjutan,” sambung Linda.

KLIK INI:  Dianggap Mirip, Ini Ajakan Menteri LHK kepada Ari Lasso!