Aksi Nyata, Mahasiswa ITS Sulap Limbah Kertas HVS jadi Bahan Industri

Klikhijau.com – Meski banyak hal telah dilakukan serba online, baik tugas kuliah mahasiswa, laporan hingga surat menyurat. Namun, penggunaan kertas, khususnya kertas Hout Vrij Schrift (HVS) terus saja...

Aksi Nyata, Mahasiswa ITS Sulap Limbah Kertas HVS jadi Bahan Industri
Bacakan Artikel

Lina menambahkan jika produk daur ulang sampah kertas HVS dapat dimanfaatkan untuk pencampuran bahan pewarna dan metal cleaning, bahkan manfaatnya bisa lebih banyak lagi.

Cara mengolahnya

Langkah yang harus ditempuh sebelum diolah menurut Lina adalah sampah kertas HVS akan melalui tahap pre-treatment, yakni berupa removing ink terlebih dahulu.

“Tidak hanya menghilangkan tinta, namun pada tahap ini juga bertujuan meningatkan kadar selulosa yang meningkatkan produksi asam oksalat sebesar 20%, ” jelas Lina seperti dikutip dari laman its.ac.id.

Lina menjelaskan lebih dalam mengenai  tahap pre-treatment, yakni  kertas HVS akan ditimbang dan dicampur dengan senyawa kalium permanganat (KMnO4) 50%. Cara ini berfungsi untuk memisahkan lignin dari selulosa.

Setelah itu, langkah yang harus diambil selanjtnya adalah  mencelupkan kertas  ke dalam senyawa hidrogen peroksida (H2O2) 65%. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tinta, setelah itu lalu dibasuh kembali menggunakan akuades.

Tidak berhenti di situ saja, sebab kertas HVS akan dihidrolisis menggunakan senyawa alkali kuat, yaitu NaOH atau natrium hidroksida 40%. Kemudian dipanaskan dengan menggunakan suhu yang mencapai 65 derajat celcius selama 80 menit.

“Pada suhu dan durasi ini (80 menit) asam oksalat yang dihasilkan akan lebih banyak dan optimal,” terang Lina.

Seusai tahap pemanasan, selanjutnya larutan didinginkan dan disaring. Setelah itu, hal yang perlu ditempuh selanjutnya adalah sisa endapan harus dicuci dengan akuades hangat (kisaran suhu mencapai 50-60 derajar celcius).

Sisa endapan hasil hidrolisis ini kemudian ditambahkan CaCl2 atau kalium klorida 10%  sehingga terbentuk endapan putih kalsium oksalat.

Nah, endapan  ini harus disaring dahulu lalu ditambahkan 100 ml H2SO4 atau asam sulfat 96% hingga terurai menjadi kalsium sulfat dan asam oksalat.

“Asam oksalat diambil dari proses penyaringan dan dicuci menggunakan etanol 96%,” papar Lina.

Senyawa asam oksalat ini harus pula dipanaskan hingga suhu 70 derajat celcius. Setelah itu didinginkan dalam air es sekitar 24 jam lamanya.

Hal ini menurut Lina, bertujuan untuk membentuk kristal asam oksalat berupa kristal jarum berwarna putih.

Meminimalisir pencemaran lingkungan

“Produk ini sudah memenuhi SNI atau Standar Nasional Indonesia di mana titik lelehnya ialah 101-102 derajat celcius,” terang lina

Dengan adanya penemuan itu, Lina berharap  bisa menjadi terobosan dan juga inovasi yang baru. Terutama dalam meningkatkan nilai tambah limbah kertas HVS sehingga tidak lagi dilihat sebagai sampah.

Penemuan cara daur ulang itu diharapkan pula dapat  meminimalisir pencemaran lingkungan yang disebabkan pengelolaan limbah kertas yang tidak berpihak pada lingkungan.

“Harapannya, semoga produk asam oksalat ini dapat memenuhi kebutuhan industri dalam negeri,” tutup Lina.

Mengenai dampak penggunaan kertas terhadap lingkungan baca di SINI

Sumber: its.ac.id

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2