Aksi Heroik Nelayan Sangkarrang Mengejar Kapal Boskalis di Selat Makassar

Klikhijau.com – Nelayan di Kepulauan Sangkarrang dan Galesong Raya terus bergerak dan meminta agar Boskalis, penambang pasir laut di Selat Makassar menghentikan aktivitasnya. Terbaru, sekitar 500 n...

Aksi Heroik Nelayan Sangkarrang Mengejar Kapal Boskalis di Selat Makassar
Bacakan Artikel

Tuntutan lainnya ditujukan kepada Kementerian BUMN dan LHK untuk menghentikan proyek reklamasi Makassar Newport dan mendesak PT. Pelindo untuk melakukan pemulihan hak nelayan pesisir Kota Makassar yang hilang akibat pembangunan Makassar Newport.

Simak aksi heroik nelayan Makassar di Sini!

Dampak tambang pasir laut versi WALHI Sulsel

Data WALHI menunjukkan, sejak beroperasi jilid pertama (2017-2018) proyek Boskalis telah menimbulkan dampak kerusakan luar biasa bagi lingkungan pesisir dan kondisi sosial-ekonomi nelayan Galesong Raya.

WALHI menyesalkan tidak adanya pemulihan lingkungan yang dilakukan perusahaan pasca kerusakan lingkungan akibat proyek tambang pasir laut.

“Pemerintah baik pusat maupun provinsi justru membuka ruang tambang pasir laut baru bagi Boskalis untuk kembali mengeruk pasir laut di wilayah tangkap nelayan Sulawesi Selatan,” kata Riski Saputra, Staf Advokasi WALHI Sulsel.

Dalam pantauan WALHI Sulsel, sejak tanggal 13 Februari 2020, Kapal Boskalis, Queen of Netherland yang memiliki kapasitas 33.423 Gross Ton (GT) kembali memulai penambangan pasir laut di perairan Bonemalonjo.

Pasir laut hasil tambang ini digunakan untuk keperluan reklamasi Makassar New port tahap II. Dalam sehari, kapal Boskalis melakukan tiga kali penambangan (3 ret kapal).

Lokasi penambangan Boskalis berada di wilayah tangkap nelayan Galesong dan Kepulauan Sangkarang. Nelayan memberinya nama Coppong Lompo, Coppong Caddi, Bonemalonjo, dan Pungangrong.

WALHI Sulsel menilai, penambangan Boskalis di wilayah yang menjadi sumber penghidupan nelayan merupakan bentuk penghancuran ruang hidup sehingga mengancam keberlanjutan nelayan di Sulawesi Selatan.

Sejak penambangan dilakukan, nelayan Pulau Kodingareng Lompo dan Galesong mulai merasakan dampaknya. Air laut di sekitar wilayah penambangan menjadi keruh.

Kekeruhan membuat hasil tangkapan nelayan berkurang drastis, terutama nelayan-nelayan yang mencari ikan tenggiri dan nelayan rawe yang mencari ikan-ikan karang.

Di Pulau Kodingareng Lompo, hampir semua dari 950 nelayan yang tercatat di Dinas Kelautan dan Perikanan merupakan nelayan pencari ikan tenggiri. Di bulan April hingga Agustus, biasanya hasil tangkap ikan tenggiri meningkat, bisa sampai enam ekor bahkan lebih.

Namun di tahun ini situasinya berbeda, aktivitas tambang Boskalis membuat nelayan kesulitan mendapat hasil tangkapan, maksimal hanya dua ekor ikan tenggiri/hari. Penderitaan nelayan pencari ikan tenggiri semakin bertambah manakala saat ini sedang terjadi pandemi covid-19 yang membuat harga ikan tenggiri turun drastis.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2