Akibat Perubahan Iklim, Gunung Denali Terancam Dibanjiri 60 Ton Tinja Manusia
Klikhijau.com - Kartika Puspitasari menulis artikel berjumlah 551 kata dengan judul Indikator Kerentanan Perubahan Iklim Dikembangkan di Sulawesi Selatan. Artikel tersebut dimuat Klikhijau.com, Jumat...
Klikhijau.com - Kartika Puspitasari menulis artikel berjumlah 551 kata dengan judul Indikator Kerentanan Perubahan Iklim Dikembangkan di Sulawesi Selatan. Artikel tersebut dimuat Klikhijau.com, Jumat sore, 12 April 2019.
Kartika menulis bahwa dampak perubahan iklim akan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat dan juga akan memberikan dampak terhadap target pembangunan.
Dalam tulisannya, Kartika lebih mengerucutkan pada kerentanan perubahan iklim di Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan. Katanya, potensi dampak yang akan ditimbulkan dari perubahan iklim akan semakin besar
Apa yang dikatakan Kartika memang benar, saat ini berbagai dampak perubahan iklim mulai terlihat, seperti kenaikan permukaan laut, gelombang panas, dan kekeringan ekstrim.
Namun, ada hal yang lebih menjijikkan akan terjadi dari dampak perubahan iklim, seperti yang ditulis Gita Laras Widyaningrum, yang dipublikasikan di Nationalgeographic.co.id, Selasa, 9 April 2019 lalu.
[irp posts="2304" name="Mantan Menteri Lingkungan Hidup Bicara Soal Perubahan Iklim di Pascasarjana Unhas"]
Gita menulis bahwa The National Park Service (NPS) sedang bersiap untuk menghadapi longsoran kotoran manusia saat permukaan es Gunung Denali mencair dan mengungkap 66 ton tinja yang ditinggalkan para pendaki.
Gunung Denali merupakan gunung tertinggi di Amerika. Sebagai salah satu dari tujuh puncak dunia, gunung tersebut menarik perhatian para penjelajah dari seluruh dunia.
Diperkirakan ada 1.200 pendaki yang berusaha menaklukannya setiap tahun. Bersamaan dengan itu, sekitar 2,2 ton kotoran manusia tertinggal di Gunung Denali–hampir setara berat seekor badak.
Secara historis, feses manusia ini akan terbuang ke lubang salju di sepanjang rute menuju gletser Kahiltna atau ceruk yang dalam.
Diharapkan itu akan tertutup tanah penuh es, tapi kenyataannya berbeda karena gletser justru semakin mencair akibat perubahan iklim.
Meski para pendaki kini mulai bertanggung jawab dengan membawa turun kembali kotorannya, tapi 60 ton feses yang terlanjur ditinggalkan pengunjung sebelumnya tetap menjadi masalah.