Akankah Kita Kehilangan Burung Penyanyi dari Asia Tenggara Itu?

Klikhijau.com - Si penyanyi merdu itu akan segera tiada. Ia kini terancam punah. Kabar buruk itu adalah yang kesekian datang dari dunia hewan. Ancaman kepunahan burung telah jadi hal yang kita angg...

Akankah Kita Kehilangan Burung Penyanyi dari Asia Tenggara Itu?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Si penyanyi merdu itu akan segera tiada. Ia kini terancam punah. Kabar buruk itu adalah yang kesekian datang dari dunia hewan.

Ancaman kepunahan burung telah jadi hal yang kita anggap lumrah. Padahal di balik kepunahannya itu, tentu ada hal yang salah.

Kesalahan itu bisa disebabkan oleh manusia sendiri, yang tak hanya puas dengan mendengarkan kicaunya, tapi harus memburunya, memilikinya, dan menjualnya, bahkan pada perburuan itu bisa saja si burung mati tertembak lalu mati.

Si penyanyi merdu itu adalah burung murai batu. Ia terkenal sebagai burung penyanyi dari Asia tenggara. Bagi para pecinta burung tentu tidak asing dengannya.

Berita ancaman kepunahan burung murai batu itu saya temukan pada artikel yang ditulis Mahmud Zulfikar di nationalgeographic.grid.id. Untuk lebih jelasnya saya tampilkan artikel tersebut

Burung Murai Batu memang tidak memiliki jenis warna bulu sebanyak burung lovebird, tapi kicauan merdu suaranya bikin hati adem mendengarnya.

Dilansir dari Kompas.com, ebuah analisis baru memaparkan, perdagangan burung murai batu (Copsychus malabaricus) di Asia Tenggara dalam beberapa dekade mengalami peningkatan.

Habitat burung murai batu tersebar di pelosok Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan sebagian Pulau Jawa.

Penggemar burung yang terus bertambah membuat perburuan burung ikut meningkat. Kecintaan masyarakat kepada burung Murai Batu untuk dipelihara ataupun dijadikan sebagai peserta lomba kicau semakin menjamur.

Banyak diselundupkan

Hal inilah yang menyebabkan banyak spesies di alam liar mulai menemui kondisi terancam punah.

Spesies yang sudah menghilang pun tidak sedikit. Terhitung sudah 24 spesies berpindah dari habitat aslinya di wilayah Asia Tenggara akibat tingginya angka perburuan burung untuk diperjualbelikan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2