Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

9 Puisi Sapardi Djoko Damono dengan Metafora Alam yang Menyentuh

Klikhijau.com – Puisi Sapardi Djoko Damono memiliki daya pikat yang kuat. Diksi yang digunakan sederhana namun memukau. Puisi Sapardi Djoko Damono banyak menggunakan metafora alam. Hujan Bulan Juni...

Oleh Idris Makkatutu 19 Jul 2020 06:02 3 menit baca
Klikhijau.com Puisi Sapardi Djoko Damono memiliki daya pikat yang kuat. Diksi yang digunakan sederhana namun memukau. Puisi Sapardi Djoko Damono banyak menggunakan metafora alam. Hujan Bulan Juni salah satunya, kaya dengan metafora alam. Sapardi Djoko Damono atau SDD merupakan penyair Indonesia angkatan 1970-an. Ia bergelar Profesor, lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 dan meninggal di Tangerang Selatan, 19 Juli 2020 pada umur 80 tahun. Selain menulis puisi, Sapardi juga menulis cerita pendek dan novel. Namun, masyarakat umum lebih mengenalnya sebagai penyair. [irp] Puisi Sapardi lebih banyak mengangkat hal-hal sederhana, namun penuh makna kehidupan. Berikut ini 9 puisi Sapardi dengan metafora alam yang menyentuh:  
Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu [irp]
Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput Nanti dulu biarkan aku sejenak terbaring di sini ada yang masih ingin kupandang yang selama ini senantiasa luput Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi  
Kuhentikan Hujan
Kuhentikan hujan Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan Ada yang berdenyut dalam diriku Menembus tanah basah Dendam yang dihamilkan hujan Dan cahaya matahari Tak bisa kutolak Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga [irp]
Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta
mencintai angin harus menjadi siut mencintai air harus menjadi ricik mencintai gunung harus menjadi terjal mencintai api harus menjadi jilat mencintai cakrawala harus menebas jarak mencintai-Mu harus menjelma aku  
Hanya
hanya suara burung yang kau dengar dan tak pernah kaulihat burung itu tapi tahu burung itu ada di sana hanya desir angin yang kaurasa dan tak pernah kaulihat angin itu tapi percaya angin itu di sekitarmu hanya doaku yang bergetar malam ini dan tak pernah kaulihat siapa aku tapi yakin aku ada dalam dirimu [irp]
Dalam Doaku
dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu dalam magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun jauh di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh- nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku aku mencintaimu, itu sebabnya akutak pernah selesai mendoakan keselamatanmu  
Sajak Tafsir
Kau bilang aku burung? Jangan sekali-kali berkhianat kepada sungai, ladang, dan batu. Aku selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting yang membenci angin. Aku tidak suka membayangkan keindahan kelebat diriku yang memimpikan tanah, tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku ke dalam bahasa abu. Tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhir agar suara angin yang meninabobokan ranting itu padam. Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu. Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja — aku selembar daun terakhir yang ingin menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba. [irp]
Di Atas Batu
ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali… ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari… ia pandang sekeliling :matahari yang hilang – timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung — ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini  
Taman Jepang, Honolulu
inikah ketentraman? Sebuah hutan kecil: jalan setapak yang berbelit, matahari yang berteduh di bawah bunga-bunga, ricik air yang membuat setiap jawaban tertunda [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra ekologis #puisi alam #puisi sapardi djoko damono #metafora alam