6 Penyair Arab Beserta Puisinya dengan Diksi Alam yang Menyentuh
Klikhijau.com - Setiap negara pasti memiliki penyair yang memotret realitas sosial yang ada. Tak terkecuali negara negara Arab, juga melahirkan penyair yang lebih dikenal dengan nama penyair arab. Pen...
Klikhijau.com - Setiap negara pasti memiliki penyair yang memotret realitas sosial yang ada. Tak terkecuali negara negara Arab, juga melahirkan penyair yang lebih dikenal dengan nama penyair arab. Penyair-penyair ini juga berhasil memotret realitas yang ada di negaranya.
Puisi-puisi yang dilahirkan dari penyair Arab memiliki ciri khas tersendiri. Banyak dari mereka menggunakan diksi alam yang menyentuh, membuat puisinya terasa lebih hidup dan dekat kepada pembaca.
Diksi atau pilihan kata merupakan kekayaan tersendiri bagi penyair. Dengan menggunakan diksi tertentu akan melahirkan efek metafora yang kuat. Alam atau lingkungan seringkali dipilih sebagai diksi dalam puisi.
Penyair Arab pun melakukan hal yang sama, berikut 6 penyair arab beserta puisinya dengan diksi alam yang kuat dan menyentuh:
[irp]
-
Nizar Qabbani
Pelajaran Menggambar
Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku lalu memintaku menggambar seekor burung. Kucelupkan kuasku pada cat abu itu kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu. Matanya terbelalak heran: “… Ayah, bukankah ini penjara, tahukah kau bagaimana menggambar burung?” Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku. Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.” Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku lalu memintaku menggambar tangkai gandum. Kugenggam pena lantas kugambar tangkai senapan. Anakku menertawakan kebodohanku, bertanya “Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan tangkai gandum dan senapan?” Kukatakan padanya, “Nak, aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum sekerat roti dan kembang mawar. Tapi di saat segenting ini pohon-pohon hutan telah bergabung dengan pasukan tentara mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam. Kini saatnya tangkai gandum bersenjata burung-burung bersenjata budaya bersenjata bahkan agama pun bersenjata. Kau tak bisa membeli roti tanpa menemukan peluru di dalamnya kau tak bisa memetik mawar tanpa duri memercik di wajahmu kau tak bisa membeli sebuah buku yang tak meledak di sela jemarimu.” Anakku duduk di tepi tempat tidur lalu memintaku membacakan sebuah puisi. Sebutir airmata jatuh di atas bantal. Anakku merabanya, heran, berkata: “Ayah, ini airmata, bukan puisi!” Lalu kukatakan padanya: “Nak, saat engkau tumbuh dewasa, dan membaca diwan-diwan puisi Arab kau akan temukan bahwa puisi dan air mata tiada bedanya. Dan puisi-puisi Arab tak ubahnya kucuran airmata dari jemari yang menulis.” Anakku meletakkan pena dan kotak krayon miliknya di depanku lalu memintaku menggambar sebuah tanah air untuknya. Kuas di tanganku seketika gemetar aku tenggelam, dan menangis.Nizar Qabbani lahir di Damaskus, 21 Maret 1923. Ia pernah bekerja di Departemen Luar Negeri Suriah dan bertugas di Mesir dan Inggris. Namun, pada tahun 1944 ia tinggalkan pekerjaannya untuk mencurahkan perhatian pada satu-satunya hal yang ia cintai: puisi. Karya-karya Qabbani terdiri dari lusinan antologi puisi yang sangat populer di dunia Arab. Banyak puisinya yang dijadikan lirik lagu para penyanyi Arab kontemporer. Karena sikap politiknya, ia pernah dimusuhi oleh para pemimpin negara-negara Arab hingga terpaksa mengasingkan diri ke London, Inggris. Ia meninggal pada tahun 1998 di London.[irp]
-
Mahmoud Darwish
Aku Tidak Minta Maaf Kepada Sumur Itu
Aku tidak minta maaf kepada sumur itu waktu aku melewatinya, Aku pinjam dari pohon cemara tua itu sebuah awan dan meremasnya seperti jeruk, lalu menunggu seekor gazel putih dan legendaris. Dan kuperintahkan hatiku untuk bersabar: Bersikap netrallah seolah kau bukan bagian diriku! Di sini para penggembala baik itu berdiri dan mengeluarkan suling mereka, lalu membujuk burung puyuh gunung masuk ke dalam jerat. Dan di sini aku pasang pelana ke kuda untuk terbang menuju planet-planetku, lalu terbang. Dan di sini para pendeta perempuan mengingatkanku: Hati-hatilah dengan jalan aspal dan mobil dan melangkahlah dalam hembusan nafasmu. Di sini kusantaikan bayanganku dan menunggu, kuambil batu terkecil dan berjaga sampai larut. Kupecahkan mitos dan kupecahkan. Dan kukelilingi sumur itu sampai aku terbang dari diriku ke sesuatu yang bukan bagian diriku. Sebuah suara rendah berteriak kepadaku: Kuburan ini bukan kuburanmu. Jadi aku minta maaf. Kubaca ayat-ayat dari kita suci yang bijaksana, dan kukatakan kepada yang tak dikenal di dalam sumur itu: Salam bagimu di hari kau terbunuh di negeri damai, dan di hari kau bangkit hidup dari kegelapan sumur! Terjemahan Saut SitumorangMahmoud Darwish mengalami masa-masa penentuan di Palestina. Kata pengantar buatan Mohammad Shaheen mengutip pengakuan Mahmoud Darwish semasa bocah di sengketa bersejarah Palestina-Israel. Ia h lahir di Palestina, 1941. Pada 1948, ia dan keluarga menjadi pengungsi, bergerak ke Lebanon. Di situasi sulit akibat politik, Mahmoud Darwish menempuhi pendidikan dengan segala represi dan diskriminasi. Pada saat bertumbuh dewasa, ia sudah bersuara nasib dan negeri. Mahmoud Darwish mulai terbiasa masuk-keluar penjara.[irp]
-
Nazik al-Malaikah
Langkah Terakhir
Saksikanlah,wahai pepohonan aku takkan lagi melihat dari bawah rindangmu inilah aku, kini telah pergi, jangan kau tangisi kesedihanku Sebab kesedihan dan harapanku tak akan menghukummu Langkahku dalam gelap, jangan kau anggap ia Sebagai langkah terakhirku di sini mengembalikan nyanyian-nyanyian yang tak ia mengerti Perlahan kau akan pupus jua sebagaimana diriku Langkahku, tempat kembali segala kepiluan Oh, andai saja aku mendengar suara nestapa Andai saja aku kehilangan inderaku, andai saja Mungkin aku tak kan menyaksikan mimpi yang asing itu Mimpi macam apa yang layu di atas pasir Kuukir diatasnya seluruh melodi hidupku Seluruh mimpi dan khayal masa mudaku Seluruh degup nada-nada Kini, darimu, aku pergi, wahai pohon Dalam jubah pengembaraan dan penghormatan Andai saja aku beranikan diri untuk berjumpa denganmu Memandangmu sekali lagi, tanpa air mata Takkan kau rasakan, esok hari, dampak dari kesalahanku Aku, wahai saudaraku, tak akan pernah kembali Semua impian dan kacaunya mimpiku Surga gemilang asa dan langkah pengembara akan kutemui kayu dalam bayang bayang dan aku pun berlalu Apa artinya, setelah ini, kayu yang rapuh itu? Aku akan hidup, wahai langitku, diatas bumi Maka akan kuselipkan cahya dalam hati terdalamku Sampai jumpa, engkau, oh, impian masa mudaku Apakah kau yang telah merajutnya lima puluh tahun lamanya Dialah aku, hasrat yang terkubur di bumi Dan akan kurahasiakan cita citaku yang getir dan penuh duka Jalan-jalan yang indah akan menangis Di atas kenangan-kenanganku, namun jiwaku tak akan pernah kembali Wahai pohon pohon, anggaplah jiwaku berasal darimu bahwa ingatan hasratku tak kan pernah padam Dan aku? Jangan kau ragu, anggap saja engkau berasal dariku Sungguh, kenanganmu di hatiku akan hidup kembali Segala tentangmu akan mengakar dalam kedalaman diriku Ia abadi sebagai penyair yang abadi Wahai pohon-pohon, jangan, jangan ingat aku lagi Aku hanyalah berhala keputusasaan dalam wujud manusia Aku tak punya apa pun selain puing-puing kerinduan Dan sisa-sisa nestapaku yang abadi Dulu aku pernah terhempas di antara mendung-mendung Menumpahkan mimpi-mimpi d dalam kedalaman hidupku Bersamaku, anganku mengangkasa melebihi tinggi gemintang Dan puisi mencipta hasratterindah untukku Hai kayu, selamat tinggal dari kehidupanku Senja telah tiba dan sungguh telah tiba pula keberangkatanku Hapuslah yang telah lalu, hapus lagu-laguku Lupakan lagu-lagu nestapa dan duka laraku Hingga tak lagi kau ingat lagu lagu piluku, esok hari Senandung suka dandukanaku Lupakanlah aku, sungguh aku telah jauh pergi bersama dosa-dosaku inilah aku tenggalam dalam kalbu senjaNazik al-Malaikah bernama lengkap Nazik Shadiq Ja’far al-Malaikah. Lahir pada 23 Agustus 1923 di Bagdad. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mencintai ilmu dan sastra. Ibunya, Salma Abd al-Razâq, adalah seorang penyair. Sedangkan bapaknya selain seorang penyair juga seorang guru bahasa dan sastra Arab. Nâzik al-Malâikah termasuk pembaharu pertama dalam puisi Arab modern dengan memunculkan puisinya pada tahun 1947.[irp]
-
Jabra Ibrahim Jabra
Di Gurun-Gurun Pengasingan
Musim semi demi musim semi, Di gurun-gurun pengasingan ini, Mau apa kami dengan cinta kami, Bila mata penuh debu dan udara beku begini? Tanah kami yang hijau, palestina kami, Bunga-bunganya seakan sulaman pada gaun wanita kami, Bulan maret menghiasi bukit-bukitnya Dengan bunga narsis dan kembang piun seindah permata Bulan april mekar di padang-padang terbuka Dengan kembang dan bunga-bunga bagi pengantin jelita, Bulan mei ialah nyanyian pedesaan kami Yang kami nyanyikan selalu Di tengah hari di bawah bayang-bayang biru Pohon-pohon zaitun di lembah-lembah kami, Sementara di ladang-ladang yang bermasakan Kami menunggu janji bulan juli Dan tarian riang di tengah panen. Tanah kami zamrud berkilauan, Tetapi di gurun-gurun pengasingan Musim semi demi musim semi, Hanya debu yang bersiut di wajah kami. Maka mau apa lagi kami dengan cinta kami Bila mata dan mulut kami penuh debu dan udara beku begini?Jabra Ibrahim Jabra lahir pada tahun 1919 di Betlehem, Palestina. Ia belajar di Perguruan Tinggi Arab di Jerusalem dan kemudian di Universitas Cambridge. Kini ia tinggal di Irak dimana ia terkenal sebagi novelis, kritikus dan penyair. Ia telah menerbitkan du kmpulan sajaknya: Tammuz fi al-Madinah (Juli di Kota), al-Madar al-Mughlaq (Lingkungan Tertutup).[irp]
-
Ahmad Abd Al-Mu'ti Hijazi
Teks Untuk Sebuah Lanskap
Matahari terbenam di kaki langit musim dingin, Matahari merah. Awan-awan timah Ditembus berkas-berkas cahaya, Dan aku, seorang anak desa, Disergap malam. Mobil kami melulur benang aspal, Mendaki dari desa kami ke kota Dan ketika itu, ingin aku Sekiranya dapat, menghebmuskan diri Ke hijau daunan yang lembab itu!Ahmad Abd Al-Mu'ti Hijazi lahir di sebuah dusun di Delta Nil tahun 1935, Hijazi belajar di pendidikan Tinggi Guru di Kairo. Ia mengembangkan kecenderungan-kecenderungan seorang sosialis, yang terbayang dalam puisinya. Karya-karyanya meliputi: Madinah bila Qalb (Kota tak Berhati), Lam Yabqa illa al-I’tiraf (Tiada Yang Tinggal Kecuali Pengakuan), dan Uras (Horace).[irp]
-
Ali Mahmud Taha
Nyanyian Pedesaan
Ketika air membelai bayang-bayang pohonan, Dan awan-awan mencumbu cahaya bulan; Burung-burung mempedengarkan nyanyian mereka Bergema di antara embun dan bunga; Dan merpati menyatakan gairah hatinya, Mendengkur pada kekasihnya dan meratapi nasibnya; Bibir-bibir angin menyapu permukaan air dan Mencium setiap layar yang berlintasan; Dari dalam malam bumi memperlihatkan Beragam bentuk keindahan; Di sana dalam gelap berdiri pohon safsafat Seakan kelam di seputarnya pun tak melihat, Dan dalam lindap bayang-bayangnya duduk aku Dengan hati risau dan tatapan sayu.Ali Mahmud Taha lahir di al-Mansurah, Mesir. Meski ia seorang insinyur, ia dikenal sebagai anggota gurp Apolo dan sebagai penyair romantik terkemuka di antara penyair-penyair Arab kontemporer. Ia banyak melakukan perjalanan ke Eropa dan merekam kesan-kesannya dalam sajak-sajak lirik, yang beberapa di antaranya dijadikan lagu dan menjadi terkenal. Himpunan sajak-sajaknya antara lain: al-Mallah al-Ta’ih (Pelat Sesat), Layali al-Malah al-Ta’ih (Malam Demi Malam Bagi Pelaut Sesat) dan Zahr wa Khamr (Bunga dan Anggur).[irp]