13 Tanaman Indonesia yang Potensial jadi BBN untuk Atasi Krisis Iklim
Klikhijau.com – Bumi sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang melukainya. Krisis iklim adalah salah satunya. Penyebab lahirnya krisis iklim cukup banyak. Penggunaan bahan bakar energi...
Klikhijau.com – Bumi sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang melukainya. Krisis iklim adalah salah satunya.
Penyebab lahirnya krisis iklim cukup banyak. Penggunaan bahan bakar energi fosil misalnya. Namun, meski begitu banyak negara merasa enggan meninggalkan bahan bakar fosil, termasuk indonesia.
Bahan bakar yang masuk dalam kategori bahan bakar fosil di antaranya pasir tar batu bara, minyak bumi, gas alam, minyak berat, dan minyak serpih, bitumen.
Bahan bakar fosil adalah bahan yang mengandung hidrokarbon asal biologis. Energi ini ditemukan di dalam kerak bumi lalu dimanfaatkan sebagai sumber energi.
[irp]
Permasalahan penggunaan energi fosil bukan hanya merusak lingkungan dan menyebabkan krisis iklim. Namun, juga memiliki keterbatasan bahan baku.
Bahan bakar ini biar bagaimana pun banyaknya, jika terus digerus akan habis jua. Apalagi proses pembentukannya memakan waktu yang lama, karena terbentuk sejak jutaan bahkan miliaran tahun lampau.
Artinya proses penyediaan bahan baku tidak akan tersedia secepatnya. Sehingga rela tidak rela memang harus beralih ke bahan bakar yang bahan bakunya bisa berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan.
Meski banyak negara masih setengah hati meninggalkan bahan bakar fosil, tidak sedikit pula yang mulai memanfaatkan bahan bakar non fosil.
Indonesia misalnya, meski belum meninggalkan penggunaan bahan bakar fosil. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Mulai gencar menggalakkan Program Mandatori BBN. Program itu tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015.
Untuk melancarkan pelaksanaan program tersebut, Direktorat Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan (2015) telah menentukan tujuh kriteria jenis tanaman yang potensial untuk diproduksi menjadi BBN di Indonesia.
[irp]
- Bahan pangan yang sudah surplus.
- Produktivitas tanaman.
- Rendemen BBN.
- Tanaman energi multiguna
- Kesiapan pengembangan tanaman.
- Kebijakan pemerintah.
- Lahan tidak bersaing dengan tanaman pangan atau kemudahan tumbuh di lahan marginal.
-
Jarak pagar
-
Nyamplung
-
Kemiri sunan
-
Kelapa sawit
-
Kelapa
-
Pongamia
-
Tebu
-
Ubi kayu atau singkong
-
Sagu
-
Sorgum
-
Aren
-
Jagung
-
Karet