10 Alasan Kenapa Tak Perlu Panik dan Cemas Hadapi Covid-19

Klikhijau.com - Saat ini harus diakui, kita tak hanya berperang melawan Covid-19 atau virus corona. Namun, juga bertarung melawan diri sendiri yang diteror kepanikan dan kecemasan. Iya, teros panik da...

10 Alasan Kenapa Tak Perlu Panik dan Cemas Hadapi Covid-19
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Saat ini harus diakui, kita tak hanya berperang melawan Covid-19 atau virus corona. Namun, juga bertarung melawan diri sendiri yang diteror kepanikan dan kecemasan. Iya, teros panik dan cemas.

Panik dan cemas tentu saja wajar, tapi jika berlebihan bisa jadi penyakit yang berbahaya terhadap mental dan psikis.

Pada masa yang serba tak menentu sekarang ini, tentu ada harapan yang bisa terus dipelihara. Ada hal-hal positif yang bisa terus dibiakkan untuk mengurangi kecemasan dan kepanikan itu sendiri.

Setidaknya ada 10 alasan kenapa kita tak harus panik dan cemas menghadapi pendemi virus corona:



  • Penyakitnya sudah ketahuan



Covid-19 awalnya diperkirakan berhubungan dengan corona virus yang berasal dari kelelawar, namun analisa genetis telah mengkonfirmasi bahwa ada usul alami baru (antara akhir November dan awal Desember) dan bahwa, walaupun virus-virus hidup dengan bermutasi, tingkat mutasinya kemungkinan tidak akan terlalu tinggi.

Virus corona baru ini berasal dari kelompok 2B, dari keluarga virus yang sama dengan SARS yang kita namakan SARS-CoV-2. Penyakit ini dinamakan Covid-19.

Kasus pneumonia parah ini dilaporkan terjadi di Cina pada 31 Desember 2019 dan pada 7 Januari 2020 virus tersebut sudah berhasil diidentifikasi. Genom virus tersebut sudah tersedia pada hari kesepuluh.



  •  Cara mendeteksi virusnya sudah ketahuan



Meski virus corona termasuk baru, namun sejak 13 Januari, sebuah tes untuk mendeteksi virusnya telah tersedia. Itu artinya penyebaran virus ini bisa terdeteksi lebih awal.


  • Banyak yang sembuh



Banyak data yang memperlihatkan peningkatan di jumlah kasus-kasus positif dan jumlah kematiannya, namun kebanyakan yang terinfeksi bisa sembuh. Ada 13 kali lebih banyak kasus yang sembuh jika dibandingkan kematian, dan proporsi ini bertambah.



  • 80% kasusnya ringan



Penyakitnya tidak menimbulkan gejala atau dalam skala menengah/ringan di 81% kasus-kasus yang terjadi. Tentunya, 14%-nya bisa menimbulkan pneumonia yang parah dan 5% bisa menjadi kritis atau bahkan fatal. Tapi masih tidak jelas bagaimana tingkat kematiannya. Bisa jadi akan lebih rendah dari estimasi saat ini.


  • Virusnya mudah mati



Dengan menggunakan cairan etanol (alkohol 62-71%), hydrogen peroxide (0,5% hydrogen peroxide) atau sodium hypochlorite (0,1% bleach) virus corona bisa mati dalam waktu hanya semenit

Selain itu, dengan rajin cuci tangan dengan sabun dan air juga cara yang paling efektif untuk menghindari penularan.



  • Gejala-gejala kurang terlihat bagi anak-anak



Hanya 3% dari kasus-kasus yang terjadi pada orang di bawah 20 tahun, dan tingkat kematian bagi yang berusia di bawah 40 tahun adalah 0,2%. Gejala-gejala kurang terlihat pada anak-anak sehingga bisa tidak terdeteksi.


  • Dunia sains bergerak



Dunia sains saat ini sedang bergerak bersama mengatasi masalah Covid-19. Dalam waktu hanya dalam sebulan, 164 artikel bisa di akses di PubMed untuk virus ini, demikian juga dengan banyaknya artikel yang belum tertinjau.

Mereka adalah studi awal pada vaksin-vaksin, penanganan, epidemiologi, genetis dan filogeni, diagnosa, dan aspek-aspek klinis serta lain-lainnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2