Waspada! Sebagain Besar Wilayah Sulawesi Diprediksi Masuk Puncak Kemarau September 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026, menyoroti bahwa 169 Zona Musim (ZOM) di Indonesia akan mengalami puncak kemarau pada bulan September, dengan sebagian besar wilayah diproyeksikan menghadapi kondisi yang lebih kering dan durasi kemarau yang lebih panjang dari normal.

Waspada! Sebagain Besar Wilayah Sulawesi Diprediksi Masuk Puncak Kemarau September 2026
Rerumputan mulai kering karena kemarau-foto/ist
Bacakan Artikel

Perubahan ini menggarisbawahi pentingnya untuk selalu merujuk pada pemutakhiran data terbaru dari BMKG agar langkah-langkah antisipasi dapat diambil secara tepat dan efektif.

 Lebih kering dan panjang

Selain pergeseran waktu puncak, BMKG juga memperbarui sifat dan durasi musim kemarau 2026. Hasil pemutakhiran menunjukkan bahwa kondisi musim kemarau tahun ini akan cenderung lebih ekstrem dibandingkan kondisi normalnya.

Sebanyak 482 ZOM, yang setara dengan 56,18 persen luas daratan Indonesia, diprediksi akan mengalami kondisi Bawah Normal. Istilah 'Bawah Normal' dalam konteks musim kemarau berarti curah hujan yang lebih rendah dari rata-rata normal, atau dengan kata lain, kondisi yang lebih kering. Ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.

Tidak hanya lebih kering, durasi musim kemarau 2026 juga diperkirakan akan lebih panjang dari normal. Prediksi ini berlaku untuk 437 ZOM, mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia.

Durasi kemarau yang lebih panjang dapat memperparah dampak kekeringan, terutama bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air, serta bagi masyarakat yang mengandalkan sumber air tadah hujan.

Pentingnya meningkatkan kewaspadaan 

Dengan adanya prediksi puncak kemarau pada September di sebagian besar wilayah, serta proyeksi kondisi yang lebih kering dan durasi yang lebih panjang, kewaspadaan menjadi kunci.

Pemerintah daerah di wilayah terdampak, khususnya yang masuk dalam daftar 169 ZOM dengan puncak kemarau September, diharapkan dapat segera menyusun atau memperbarui rencana kontingensi.

Langkah-langkah antisipasi yang dapat dilakukan antara lain adalah pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, persiapan pasokan air bersih alternatif, edukasi kepada masyarakat tentang penghematan air, serta peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Sektor pertanian juga perlu mempertimbangkan penyesuaian pola tanam atau penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan.

Informasi dari BMKG ini menjadi panduan penting bagi seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk bersinergi menghadapi potensi dampak musim kemarau 2026 yang diperkirakan akan lebih menantang dari tahun-tahun sebelumnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2