Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Wanita dalam Cangkang

Wanita dalam Cangkang   Pada hakekatnya aku berbicara kepadamu Dan ikut menenguk getir pahit dalam cangkir kopimu Haus yang purba ini telah lama meminta pada gelas hampa yang pandai menagih...

Oleh Nona Reni 16 Oct 2021 14:04 2 menit baca

Wanita dalam Cangkang

  Pada hakekatnya aku berbicara kepadamu Dan ikut menenguk getir pahit dalam cangkir kopimu Haus yang purba ini telah lama meminta pada gelas hampa yang pandai menagih kebeningan benda-benda. Kau melipat diri di hadapan hal-hal gaib Tersampai padaku sebagai kewajaran dari pohon-pohon, bukit-bukit dan padang-padang yang berlari Seperti dalam kaca jendela mobil tua yang memasuki terowongan waktu Gema-gema menggandakan suaranya, menyebut namamu semata. Selayaknya kepak sayap burung yang memburu angin Menyisakan guratan udara untuk dinapaskan dada Aduhai wanita, yang dipunggungnya memikul cangkang, tersebut namamu selalu Okt 21 [irp]

Magrib di Beranda

  Katamu, tersekap di kampung halaman sama halnya dengan menanti kepunahan. Aku mulai dihantui cacat keyakinan dengan sedikit kenyamanan. Entah berapa banyak anak-anak yang mulai berlari Seakan berlomba-lomba ingin meninggalkan tanah leluhur ini. Menanggalkan adat istiadat, yang ari-arinya masih bergelantungan di puncak pohon asam itu Bahkan saat sayup magrib jatuh di beranda, mereka seakan memintaku ikut berlapang dada Aku berada dalam belenggu-belenggu yang kau ciptakan Kau seolah asyik menertawakan Namun mungkin memang beginilah kisah yang harus disembunyikan dari dunia luar Biarlah, biar kugenapi tanah leluhur ini dengan amis darah tanpa sesiapa. Okt 21 [irp]

Benturan Peradaban

  Aku berjalan ke kanan untuk menemukan tanah lapang yang isinya; anak-anak bermain bola bertelanjang dada, berkejar-kejaran dan lupa pada wasit yang meniup peluit tanda permainan usai. Lalu berjalan ke kiri untuk menemukan robot-robot yang tunduk pada satu perintah atasan. Menebang pohon, mengeruk tanah, membangun tembok raksasa tempat dimana penguasa tak dapat disentuh hukum. Lantas bagaimana kelak jika kanan dan kiri dibenturkan? Mungkinkah gempa? Mungkinkah banjir? Ataukah tsunami? Atau kiamat seperti yang tertera dalam kitab? Pada akhirnya bukan lagi tentang menjawab pertanyaan bukan, tujuan puisi ini dibuat? Sebab pada akhirnya, puisi jualah jalan pulang dari segala peradaban. Sp, Oktober 21 [irp]
Topik terkait
#puisi #lingkungan #puisi lingkungan #sastra dan lingkungan #nona reni