Waigeo, Pulau dengan Keanekaragaman Hayati yang Menakjubkan
Klikhijau.com - Alfred Russel Wallace tidak hanya menjelajahi Maluku, tapi juga sampai ke Pulau Waigeo, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat tahun 1860. Kedatangan Wallace ke Pulau Waigeo di...
Klikhijau.com - Alfred Russel Wallace tidak hanya menjelajahi Maluku, tapi juga sampai ke Pulau Waigeo, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat tahun 1860.
Kedatangan Wallace ke Pulau Waigeo disebabkan daya tarik keindahan dan keunikan pulau tersebut. Bukan hanya Wallace, peneliti dari luar negeri yang datang ke pulau ini. Tapi juga Thomas Barbour tahun 1906-1907, ia mengoleksi amfibi dan reptil di daerah tersebut.
Tidak berhenti di situ saja, pada tahun 1930 W.J.C. Frost mengoleksi burung dari Pulau Waigeo. Lalu pada 1948-1949 ekspedisi Swedia-Belanda melakukan penelitian jenis burung, serangga, dan tumbuhan bersama peneliti dari Indonesia.
Bahkan sejak tahun 2007 lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian di berbagai bidang keilmuan. Kemudian pada 2014, Penelitian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat bersama organisasi Fauna & Flora International Indonesia Program (FFI-IP) turut ikut serta dalam penelitian Waigeo.
[irp posts="2478" name="Tiga Jenis Biawak Ini Hanya Bisa Ditemukan di Raja Ampat"]
Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat R. Basar Manullang mengatakan, daratan Kabupaten Raja Ampat seperti Pulau Waigeo menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Bukan hanya memiliki kekayaan alam laut saja, tetapi juga memiliki hutan yang menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi dan belum diketahui banyak orang.
Menurut Basar, seperti yang tayang di Antara.com, keunikan Waigeo disebabkan adanya proses geologi yang terjadi ribuan tahun lalu.
Pulau Waigeo bagian dari Paparan Sahul yang terpisah ribuan tahun akibat adanya tumbukan Lempeng Australia - India dengan Lempeng Pasifik.Inilah yang menyebabkan banyak satwa dan tumbuhan yang hanya ditemukan di pulau ini.
Waigeo juga memiliki sebuah gunung tertinggi yaitu Gunung Danai yang mencapai 982 meter dari permukaan laut. Dan 80% hutan primer dan sebagian kecil hutan sekunder sehingga ditetapkan menjadi kawasan konservasi keanekaragaman hayati Irian Jaya pada tahun 1997.
Sementara itu, Biodiversity Coordinator Fauna & Flora International Indonesia Program, Maurits Kafiar mengatakan bahwa terdapat lebih dari 120 jenis pohon di Hutan Waigeo. Itu artinya bahwa pulau ini adalah surga bagi flora dan fauna menikmati kehidupannya.
"Pulau Waigeo didominasi oleh jenis pohon Vatica rassak dan Pimelodendron amboinicum," ujarnya.