Tips dan Praktik Hijau Ala Anak Kost
Klikhijau.com - Tinggal dan menjadi anak kost berarti belajar mengatur banyak hal dan semuanya sendiri. Uang bulanan harus diatur dan dibagi untuk bisa makan,trasportasi,kebutuhan kuliah/kerja sampai kebutuhan sehari-hari. Dalam rutinitas tersebut, menjaga lingkungan mungkin bukan menjadi prioritas utama. Padahal, praktik ramah lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana dikamar kost, tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Permasalahn lingkungan berkaitan dengan jumlah sampah yang terus dihasilkan setiap hari. Berdaskan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). tumpukan sampah yang tercatat dari kabupaten / kota yang melaporkan pada 2025 sampai puluhan juta ton per tahun.
SIPSN (2025) Mencatat timbunan sampah nasional sekarang berada pada angka 33.391.926,59 ton/tahun. Dengan 91.484,73 ton/perhari. Dan sampah terbanyak adalah sampah rumah tangga yang berapa pada angka 19.050.697,01 ton/hari, yang jika di persen kan adalah 51,38%.
Dan jika kita melihat angkat timbulan sampah di kota Makassar sendiri, timbulan sampah harian : 1.064,06 ton/hari, kemudian jika dilihat dari timbulan sampah pertahunnya berada pada angka 338.381,87 ton/tahun.
Komposisi sampah berdasarkan jenis sampah di dominasi oleh sampah sisa makanan yang berada pada angka 65% dan Sumber sampah paling banyak adalah sampah rumah tangga yakni 77,54 ton/hari atau jika di persenkan berada pada angka 83,90%
Data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah butuh penanganan setelah sampah dihasilkan, juga penanganan langsung dari sumbernya.
Bagi anak kost, sumber sampah tersebut dapat berasal dari aktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, contohnya membeli makanan, membeli air minum kemasan, berbelanja, hingga menggunakan berbagai produk kebutuhan sehari-hari.
Karna itu, praktik hijau dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana.
Membawa Tumbler Saat Beraktivitas.
Penelitian Alfirdausy dkk (2025), mengatakan bahwa limbah botol plastik sekali pakai menjadi masalah penting dalam perang iklim dan krisis lingkungan di seluruh dunia, dan Indonesia adalah salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Karena botol plastik yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sulit terurai secara alami dan berkontribusi besar terhadap pencemaran darat dan laut, mereka memiliki efek jangka panjang.
Kebiasaan membeli. minuman kemasan masih tinggi, terutama di kalangan remaja, mahasiswa, dan pekerja urban.
Salah satu kebiasaan yang mudah dilakukan adalah membawa tumbler atau botol minum sendiri yang dapat digunakan kembali, ketika pergi kuliah atau kerja, atau melakukan aktivitas diluar kost, anak kost dapat membawa air minum sendiri dan mengisinya kembali ketika sudah habis.
Mengubah kebiasaan membawa air minum sendiri dalam tumbler. Tumbler dapat dipakai berulang kali dan tidak menambah limbah. Di samping itu, menggunakan tumbler juga dapat mendorong kita untuk lebih sering minum air putih, yang pastinya bermanfaat untuk kesehatan (Alfirdausy, A. et al, 2025).
Hal sederhana ini menunjukkkan bahwa praktik ramah lingkungan tidak selalu membutuhkan biaya besar dan produk khusus. Barang yang sudah dimiliki dan dapat digunakan berulang kali juga bisa menjadi bagian dari kebiasaan hijau.
Memasak Makanan Sendiri
Penelitian Kim dkk. (2022, dalam Fatahillah, 2025) menemukan bahwa belanja online menghasilkan 4,8 kali lebih banyak limbah kemasan daripada belanja offline dengan jumlah pengeluaran yang sama. Untuk itu kebijakan baru diperlukan untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut akibat limbah kemasan dari belanja online.
Membeli makan jadi memang menjadi pilihan praktis bagi banyak anak kost. Namun, makanan yang dibeli pasti disertai dengan kemasan, contohnya kotak makanan, kantong plastik, gelas plastik, serta alat makan sekali pakai.
Salah satu alternatifnya adalah memmasak sendiri. Tidak perlu membuat makanan yang rumit. Anaka kost bisa memasak nasi, telur, atau tumis sayur sederhana sesuai kemampuan dan fasilitas yang ada.
Penelitian Nugraha dkk (2026) menemukan beberapa fenomena ternyata mahasiswa indekost cenderung lebih memilih membawa bekal dari rumah dari pada membeli makanan dari luar, ini menandakan bahwa mereka cenderung menekan perekonomian dan melakukan persiapan seperti masak dahulu sebelum berangkat berkegiatan, di lain sisi, mahasiswa indekost juga rata-rata membeli makan di luar hanya berdasarkan keinginan sesaat, yang kemungkinan untuk memuaskan nafsu makan mereka.
Dengan demikian kegiatan memasak bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan makan, tetaoi juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi sampah dari aktivitas sehari-hari dan menghemat pengeluaran.
Hemat Listrik
Praktik hijau selanjutnya dapat dilakukan melalui penggunaan listrik. Menurut Darmawan (2026) Kebutuhan listrik anak kos dalam sehari sekitar 1,48 kWh dan jumlah tersebut dapat meningkat jika semakin banyak perangkat elektronik yang digunakan.
Agar token Rp 50.000 bisa awet hingga 30 hari atau sebulan, maka anak kos perlu menurunkan konsumsi listrik menjadi sekitar 1,203 kWh per hari. Supaya token Rp 50.000 awet sebulan, anak kos harus lebih menghemat pemakaian listrik, seperti: Lebih memilih lampu LED berdaya kecil. Mematikan lampu saat tidur dan saat pagi hingga sore hari. Tidak lupa mencabut charger laptop serta yang tidak digunakan. Hindari penggunaan alat elektronik berdaya besar, seperti setrika listrik, kompor listrik, panci listrik, rice cooker, dll (Darmawan, 2026).
Bagi anak kost, menghemat listrik juga berkaitan dengan pengeluaran. Penggunaan energi yang lebih bijak dapat membantu menghindari pemakaian listrik yang tidak diperlukan.
Kebiasaan tersebut memang terlihat kecil. Namun, ketika dilakukan secara terus menerus, oenghematan energi yang menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari
Dalam penelitian Prasetyo dkk (2025) menjelaskan bahwa Kepekaan mahasiswa terhadap penggunaan energi listrik merupakan langkah awal dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah energi dan berkelanjutan. Melalui kebiasaan sederhana namun berdampak besar, mahasiswa dapat membangun karakter sebagai role model pengguna listrik yang bijak, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masa depan bangsa dan kelestarian lingkungan.
Menggunakan Air Secukupnya
Selai listrik, penggunaan air juga perlu diperhatiakan. Menurut Graha Excel (2026), rata-rata kebutuhan air bersih pada rumah tangga berkisar antara 60 liter hingga 150 liter per orang per hari. Angka ini dapat bervariasi tergantung lokasi, iklim, dan aktivitas pemakaian air rumah tangga sehari-hari.
Standar ini juga dikenal sebagai rata-rata hak manusia atas air untuk memenuhi kebutuhan air dasarnya. Anak kost dapat memulai dengan menutup keran ketika tidak digunakan, menggunakan air secukupnya saat mandi dan mencuci, serta tidak membiarkan air mengalir tanpa kebutuhan.
Kebiasaan menghemat air sebenarnya tidak membutukan alat khusus. Yang dibutuhkan adalah kesabaran untuk menggunakan air sesuai kebutuhan. Jika terdapat keran aatau pipa yang bocor di tempat kost,penghuni juga dapat segera melaporkannya kepada pemilik atau pengelola kost. Hal kecil seperti ini dapat menbantu mencegah pemborosan air.
Dengan mengubah kebiasaan buruk dan menerapkan kebiasaan sederhana dan cerdas dalam penggunaan air bersih, kita tidak hanya hemat uang, tetapi juga ikut memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlanjutan ketersediaan sumber daya air dan lingkungan hidup. Saatnya memulai aksi nyata, mari kita berhemat sebelum terlambat. Karena air adalah kehidupan dan menghemat air berarti menyelamatkan kehidupan itu sendiri (PT PRIA, 2026)
Barang Lama Tidak Harus Langsung Dibuang
Praktik hijau juga dapat dilakukan dengan menggunakan kembali barang yang masih layak. Kardus paket, bisa digunakan sebgai tempat penyimpanan barang. Toples bekas makanan dapat dimanfaatkan sebagai wadah penyimpanan. Pakaian yang sudah tidak digunakan tetapi masih layak dapat diberikan kepada orang lain.
Kebiasaan menggunakan kembali barang membantu memperpanjang masa pakainya sebelum menjadi sampah. Prinsipnya cukup mudah saja, sebelum membuang sesuatu, lihat terlebih dahulu apakah barang tersebut masih bisa digunakan kembali.
Menerapkan praktik hijau pada anak kost tentu tidak gampang. Kesibukan kuliah/kerja keterbatasan fasilitas, dan kebiasaan membeli makanan cepat saji dapat membuat seseorang kembali pada pola lama.
Karna itu, praktik hijau tidak perlu dimulai terlalu besar. Anak kost bisa memilih satu kebiasaan terlebih dahulu, contohnya nya membawa tumbler setiap kali kuliah. Kalau sudah terbiasa, kebiasaan lain seperti menghemat listrik, mengurangi plastik atau memilah sampah dapat dilakukan secara bertahap.
Praktik hijau bukan ingin menjadi sempurna dalam satu hari. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan yang bisa dilakukan dengan konsisten.
Kamar kost mungkin hanya ruang kecil, tetapi dari ruang tersebut kebiasaan menjaga lingkungan dapat kita mulai dari situ. Membawa tumbler, memasak sederhana, menghemat listrik dan air, menggunakan kembali barang,hingga mengurangi penggunaan plastik merupakan tindakan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak kost.
Menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Kadang yang dibutuhkan hanya mengubah kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Dari kamar kost , dari kebiasaan sendiri, praktik hijau bisa dimulai.