Tiga Alasan Kopi Indonesia Masih Kalah Bersaing dari Kopi Brazil dan Vietnam
Klikhijau.com - Malam itu dalam penanggalan 19 Juli 2021, saya kedatangan tamu salah seorang prosesor kopi topidi, Malino, Agha Madaga Sibanti. Kami tidak hanya berdua, ada 5 orang berdiskusi di teras...
Klikhijau.com - Malam itu dalam penanggalan 19 Juli 2021, saya kedatangan tamu salah seorang prosesor kopi topidi, Malino, Agha Madaga Sibanti. Kami tidak hanya berdua, ada 5 orang berdiskusi di teras depan rumah. Obrolan kami tentu saja tentang kopi.
Seputar sejarah keberadaan kopi di Indonesia, terkhusus di Sulsel jadi pemicu perbincangan. Lalu menyalip menyoal citra dan cita rasa kopi dalam setiap racikan. Sampai menemui disparitas , bagaimana kopi Indonesia bisa menyamai persaingan dengan kopi Brazil dan Vietnam.
Setelah menikmati bilangan cangkir kopi, kami bersepakat bahwa biji kopi asal Indonesia punya tempat tersendiri di hati para pencinta kopi dunia. Begitu banyak biji kopi di tanah air yang diekspor ke luar negeri dan berhasil menjadi primadona.
Menurut Agha, sapaan saya pada Agha Madaga Sibanti, kopi asal Indonesia itu khas dan tiap-tiap daerah punya keunikan dilidah para pencinta dan penikmat kopi dunia. Agha lalu bercerita panjang, atas sejumlah permintaan konsumen luar negeri.
Dari pengakuannya, ia telah mengirimkan beberapa sampel kopi topidi ke beberapa negara. Diantaranya Korea Selatan dan Jepang. "Beberapa jenis kopi dalam beberapa varian proses diterima dan disenangi," ucap Agha.
[irp]
Biji kopi - Foto/ dhetopidiestate[/caption]
Lalu, ada kopi Sumatra. Diantara 10 jenis biji kopi, kopi Sumatra selalu menjadi nomor satu. Tak hanya di Indonesia, juga di seluruh dunia. Hal tersebut karena konon kopi Sumatra punya karakter yang seimbang.
Di belahan Jawa ada Kopi Jawa Barat. Kopi merupakan gabungan dari berbagai jenis biji kopi yang ditanam di daerah Jawa Barat.
Salah satu yang cukup dikenal adalah kopi Malabar, Pangalengan. Namun dari semua daerah penghasil kopi di Jawa Barat, kopinya kemudian dipasarkan dengan nama Jawa Barat.
Sebagian besar kopi yang dihasilkan di Jawa Barat adalah jenis arabika. Karakternya cenderung manis dan memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi.
[irp]
Popularitas kopi Jawa Barat ini semakin populer pada 2017 lalu. Biji kopi asal Gunung Puntang ini sempat memenangi kompetisi Specialty Cofee Association.
Selanjutnya adalah kopi Kintamani yang tumbuh di Pulau Bali. Kopi ini berjenis Arabika, ditanam di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl. Biasanya pohon kopinya ditanam di dekat Gunung Batur.
Dari Sulawesi ada kopi asal Toraja. Kopi Toraja menjadi salah satu biji kopi yang juga sudah lama populer. Biji kopi asal Sulawesi ini jadi favorit masyarakat dari benua Eropa.
Lain lagi dengan keunikan Kopi Papua. Walaupun berasal dari satu origin yang sama, kata Agha, rasa kopinya bisa saja berbeda. Termasuk proses pemetikan kopi hingga pasca panen
Pengalaman menjelajahi kopi nusantara membuat Agha memahami sejumlah proses kopi. Menurut Agha, cita rasa kopi yang dihasilkan tergantung dengan proses pengolahan biji kopi mulai dari fermentasi, roasting, hingga penyeduhan.
Agha membagi rasa kopi dalam berbagai varian. Ada kopi yang cenderung beraroma floral dengan rasa asam yang sedang. Selain itu ada yang punya body medium, serta rasa yang sedikit manis.
[irp]
Data kopi dunia - Infografis/Katadata[/caption]
[irp]
Menurutnya, kopi Indonesia terkenal dengan rasa yang khasnya, apalagi untuk jenis kopi Arabica. Namun jumlah pasokannya yang terbatas, membuat nama kopi Indonesia seolah tenggelam di pasaran kopi dunia.
Dari sisi produksi kopi dari Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Brasil yang produksnya 3 juta ton per tahun. Sementara Vietnam yang berada di urutan kedua saat ini produksi kopinya sekitar 1,3 juta ton.
Alasan kedua, kopi dari Brazil dikenal dalam perdagangan internasional, dengan membawa nama negara Brazil. Baru kemudian menyebut nama asal daerah dalam lingkup negara Brazil.
Berbeda halnya dengan kopi dari Indonesia. Dengan beragamnya kopiĀ lalu diperkenalkan lebih awal dengan daerah asal kopi. Itulah mengapa kopi di Indonesia lebih kenal dengan masing-masing daerah. Ada kopi Gayo, kopi Toraja, kopi Jawa Barat, kopi Kintamani, kopi Papua, dan seterusnya.
Alasan ketiga, kurangnya keberpihakan pemerintah dalam menggenjot produksi kopi dengan lahan yang masih luas. Termasuk edukasi petani kopi untuk peremajaan tanaman kopi dengan ekstensifikasi. Agar tanaman kopi bisa tumbuh dan panen sepanjang waktu.
Tanah Indonesia yang potensial menjadi salah satu negara penghasil kopi terbaik tingkat dunia. Namun itu dapat terjadi bila saja semua elemen yang terkait dunia kopi nusantara mengapresiasi jerih payah para petani kopi.
Australia, Jepang, dan Amerika lebih peduli dengan kopi tanah air. Bahkan mereka rela datang hingga kepelosok negeri ini, demi berburu kopi yang berkualitas.
Lantas, adakah yang salah dengan paradigma bangsa ini sehingga kepedulian itu justru melekat pada bangsa lain?
[irp]