Tata Kelola Pariwisata Harus Perhatikan Aspek Lingkungan

Klikhijau.com – Pariwisata bisa menghasilkan napas baru di segala bidang. Keberadaannya dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Peran pariwisata memang penti...

Tata Kelola Pariwisata Harus Perhatikan Aspek Lingkungan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pariwisata bisa menghasilkan napas baru di segala bidang. Keberadaannya dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Peran pariwisata memang penting, bahkan menurut Croes, R (2014) pariwisata juga dianggap sebagai metode yang efektif untuk mengurangi kemiskinan di beberapa komunitas tradisional.

Sedangkan Palmer (1999) mengatakan pariwisata adalah simbol yang membantu membangun dan menyampaikan rasa identitas nasional.

Hanya saja, demi mendapatkan untung dalam hal materi, banyak pengelola pariwisata mengabaikan lingkungan.

Padahal menurut Ceballos-Lascuráin yang dinukil oleh Nurlisa Gintinga, dkk (2020) ada pergeseran minat terhadap pariwisata. Itu terbukti dengan munculnya sustainable tourism, yang berfokus pada konservasi tujuan dan meningkatkan pengetahuan tentang dunia luar.

Pergeseran minat itu dan kerusakan lingkungan yang disebabkan pariwisata, membuat Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Alue Dohong mengimbau agar pemangku kepentingan dapat mengembangkan tata kelola pariwisata yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat

Alue menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan dalam forum "Green Investment dalam Pembangunan Wisata Berkelanjutan" di Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (PSLH UGM), Selasa 14 Maret 2023 lalu.

Dalam diskusi yang membahas topik "Grand Design Tata Kelola Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia”, Wamen LHK berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya yang bertujuan untuk mencapai tujuan tersebut. Ia menyatakan bahwa dalam rangka mengembangkan energi baru terbarukan. Sektor pariwisata alam menjadi bagian penting dari strategi untuk membangun ekonomi hijau.


“Melalui G20 di Bali kemarin, Kemenparekraf juga mendorong agar pariwisata berkelanjutan dapat mengangkat kembali sektor pariwisata dan industri kreatif kita setelah pandemi. Paling tidak sektor ini ditargetkan bisa menghasilkan hingga 3 juta kerja lapangan,” ucap Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong.

Alue Dohong bercerita, masalah pembangunan pariwisata ini tidak hanya sampai di sana, beberapa kasus di Bali mengungkapkan bahwa marak terjadi pembunuhan kepemilikan dari masyarakat lokal ke pemilik non-WNI.

“Hal ini juga perlu kehati-hatian. Sektor seperti ini diambil rawan alih karena sektor pariwisata khususnya pariwisata melibatkan mobilitas manusia. Tentunya rawan terjadi pengalih kekuasaan,” tambahnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2