Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Tak Ada Sesiapa di Perut Ikan

Pepohonan Hilang di Mata   Kau datang berteriak Di belakangmu kata-kata lengang tak bergerak Kau membuang jubahmu ke tanah kering gersang Kau telah lama hidup dan tersesat di rimba kota....

Oleh Nona Reni 29 Oct 2022 00:37 2 menit baca
Pepohonan Hilang di Mata
  Kau datang berteriak Di belakangmu kata-kata lengang tak bergerak Kau membuang jubahmu ke tanah kering gersang Kau telah lama hidup dan tersesat di rimba kota. Polusi udara menghuni kepala dan hatimu Dan kau menyakini telah hidup sekian abad untuk Menghidupi mimpi-mimpi Nyatanya, kehidupan tak benar-benar memberimu seorang anak, maupun seorang istri yang senantiasa menuntun langkah kakimu pulang di malam hari Rutinitas yang kau temui di dapur ibu Yang menyimpan rempah nenek moyang Dan kamar tidur kecil selepas kematian seseorang yang tak mampu kau tolak hadirnya Kau tak menemukan kata cukup dan pepohonan Untuk kenyataan yang begitu berengsek Kau tak mampu melawan untuk menghidupkan dirimu sendiri di tengah sesatnya kenangan Dan juga kegersangan ketiadaan kayu bakar [irp] Akhirnya kau betul-betul memeluk retak dan luput menanyakan cara jitu untuk bahagia dan membersihkan kepala dan hati dari polusi Lalu bertetirahlah kau dengan penderitaan yang mengosongkan lahanmu dari dahan ketakutan-ketakutan akan masa mendatang Pepohonan menghilang dari matamu Air mengering di depan rumahmu Hidup berjalan semakin tertatih Masa depan buram kelabu Kedatangan panas dan hujan kacau balau Masa depan semakin masam Oktober 2022 [irp]
Tak Ada Sesiapa di Perut Ikan
  Seorang anak bertanya pada ibunya Tentang nama-nama ikan yang dipancing ayahnya Juga tentang isi perutnya Setelah pisau dapur ibunya merobek sirip dan sisiknya Di perut ikan Tak ada nabi Hanya ada sampah plastik dan tahi Di perut ikan Tak ada cincin emas Hanya ada mata kail dan mata cemas. Di perut ikan Tak akan kau temui apa-apa lagi anakku Tak akan ada satu mujizat ataupun seribu wasiat Tak ada apa-apa selain cemas yang meremas-remas Oktober 2022 [irp]
Mengunjungi Tandabaca Mengunjungi Semesta Penuh Isi
  Kususuri jalan-jalan yang menghubungkan setapakmu dengan tapakku Di belakangmu hijau mengekor membentangkan dua tiga kekata yang ingin runtuh menjadi puisi Kuhitung anak tangga hingga beberapa biji Sebelum pintu gerbangnya menyambut kakiku memasuki gerbang dimensi lain Di puncak tandabaca Aku mengeja-eja ingin dan angin Juga mengejar-ejar hangat pada dinginnya tiang-tiang Binara cinta Aku menyembunyikan ingatan tepat di balik panggung itu. Panggung yang kau beri nama panggung ingatan tentang malam yang dikikis habis sepasang kekasih dalam keremangan dan kesunyian Dan juga pematang sawah yang senantiasa menantang untuk menggadaikan masa depan. Pohon-pohon cengkeh bersetia Menunggui tiap kedatangan 2022 [irp]
Topik terkait
#ekologi sastra #puisi lingkungan #ikan #sastra dan lingkungan #nona reni #perut ikan