Tak Ada Pantai di Bira
Yang paling ingin kulihat jika ke pantai Bira adalah pasirnya. Konon telah berubah jadi cokelat tanah. Tak ada yang tahu penyebabnya, tapi berita itu telah menggegerkan seisi kampung. Bagaimana mu...
Yang paling ingin kulihat jika ke pantai Bira adalah pasirnya. Konon telah berubah jadi cokelat tanah. Tak ada yang tahu penyebabnya, tapi berita itu telah menggegerkan seisi kampung.
Bagaimana mungkin, dari pasir putih berkilau menggoda bisa berubah warna jadi cokelat tanah? Mustahil.
Sejak kabar itu merebak, orang-orang yang biasa berkumpul di selasar rumah main domino tiap sore akan lupa menurunkan dominonya.
Mereka sibuk saling mendebat penyebab pasir pantai Bira berubah. Setelah lelah berdebat, mereka akan bingung siapa yang harus menurunkan kartunya.
[irp]
Kebingungan itu membuat para pemain domino tertawa lepas. Seakan kebahagiaan mereka temukan pada kebingungannya, pada kesalahan yang tak disengaja.
Aku yang baru tiba di kampung langsung mencecar Ibu pertanyaan. Jika Ibu mengatakan bahwa benar pasir putih Bira berubah. Aku tak punya kuasa untuk tidak percaya.
"Iya, Puang Sardi menceritakannya saat pulang dari Bira. Ia membawa pasir dari sana yang telah berubah warna," jelas Ibu penuh keyakinan.
Musim hujan menahan warga mengunjung Bira untuk membuktikan kabar itu. Hari ketiga di kampung, aku nekat menerabas hujan untuk mengunjungi Bira.
Mengunjungi Bira bagiku serupa mengunjungi kekasih. Ada kisahku tertanam kuat di sana dengan Nenna. Kekasih pertamaku.