Swedia Darurat karena Kekurangan Sampah, Indonesia Darurat karena Sebaliknya
Klikhijau.com – Jika kamu penggemar bola, kamu pasti tahu Zlatan Ibrahimovic. Ia adalah pemain bola asal Swedia. Saat Indonesia dikepung sampah, saat pemerintah lippu ‘bingung’ bagaimana mengatasi sa...
Klikhijau.com – Jika kamu penggemar bola, kamu pasti tahu Zlatan Ibrahimovic. Ia adalah pemain bola asal Swedia. Saat Indonesia dikepung sampah, saat pemerintah lippu ‘bingung’ bagaimana mengatasi sampah. Negara asal Ibrahimovic telah lama merdeka dari sampah.
Oya, media daring tanah air pernah ramai memberitakan jika Swedia telah mengimpor sampah dari beberapa negara, sebab di negara tersebut sampah telah menjadi komuditas bisnis. Setiap tahun, masyarakatnya rata-rata memproduksi 461 kilogram limbah.
Iya, hampir sama dengan Indonesa, namun yang membedakannya, Swedia bisa menyulap dua juta ton sampah atau hampir setengah sampah itu setiap tahunnya dijadikan energi. Sementara di Indonesia sampah dibuang begitu saja, meski bukan pada tempatnya.
Swedia berhasil melakukan revolusi daur ulang. Sampah-sampah rumah tangga yang didapatnya diolahnya menjadi sumber energi.
[irp posts="2297" name="Perangi Sampah Plastik, Peneliti UGM Ciptakan Mesin Pencacah, Ini Keunggulannya"]
Konon, lebih dari 99 persen sampah rumah tangga di negara ini bisa menjadi bahan daur ulang dan sumber energi. Kurang dari 1 persen sampah berakhir di tempat pembuangan akhir.
Jika Indonesia hanya mempunyai 3 R (Reduce, reuse, recycle) dalam mengolah sampah, Swedia punya beberapa cara untuk mengatasi sampah. Pertama pencegahan atau pengurangan (Reduce), kedua menggunakan kembali (Reuse), ketiga daur ulang (Recycling), keempat daur ulang alternatif dengan mengubahnya menjadi sumber energi, dan terakhir melakukan pembuangan ke TPA.