Survei Ungkap 78 Persen Petani dan Nelayan Alami Sengatan Panas Berat, Kesehatan Mental Ikut Terancam

Survei Ungkap 78 Persen Petani dan Nelayan Alami Sengatan Panas Berat, Kesehatan Mental Ikut Terancam
Program Officer LaporIklim Fajar Sanintan, Koordinator Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan Said Abdullah, dan Jurnalis Senior Kompas Ahmad Arif saat menjadi narasumber dan moderator dalam Forum Dialog Kebijakan Nasional bertajuk "Panas yang Tak Terlihat" di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (24/9/2026) (Dokumentasi LaporIklim).
Bacakan Artikel

Di lapangan, praktik berbahaya sudah muncul. Program Officer LaporIklim, Fajar Sanintan, menceritakan warga di Indramayu yang sengaja mengonsumsi parasetamol saat sarapan agar tubuh mampu bertahan di tengah panas ekstrem. Praktik itu tidak pernah tercatat dalam sistem kesehatan nasional.

Penurunan pendapatan juga memaksa nelayan mengorbankan gizi keluarga. Hasil jual ikan sering dipakai untuk membeli kipas angin agar bisa tidur malam hari, sementara keluarga hanya makan mi instan dengan kuah yang diperbanyak.

Respons kebijakan daerah masih minim. “Seluruh dokumen perencanaan daerah di wilayah studi, mulai dari RPJMD, RKPD, KLHS, rencana adaptasi pertanian, hingga rencana penanggulangan bencana, tidak ada satu pun yang secara eksplisit menyebut kesehatan mental petani dan nelayan sebagai dampak perubahan iklim yang perlu ditangani,” kata Fajar.

Direktur Yayasan PIKUL, Torry Kuswardono, menekankan perlunya perlindungan sosial yang adaptif.

“Petani dan nelayan kita tidak pernah tahu mengapa perubahan iklim ini terjadi dan mereka tidak bertanggung jawab atas krisis ini, tetapi mereka harus menanggung dampaknya secara langsung,” ujarnya.

Ia mengingatkan kearifan lokal di Kupang hingga akhir 1990-an, ketika pekerja menghentikan aktivitas pada jam terik dan kembali bekerja sore hari atau sejak subuh.

Bukti ilmiah global memperkuat temuan lapangan. Peneliti YSSTI dan Mochtar Riady Institute for Nanotechnology, Safarina G. Malik, memaparkan meta-analisis 111 studi dari 30 negara. Satu shift kerja di bawah tekanan panas meningkatkan risiko gangguan kesehatan empat kali lipat.

“Paparan panas menaikkan suhu inti tubuh, denyut jantung, dan dehidrasi, menciptakan dilema berat: berhenti bekerja demi kesehatan atau terus bekerja demi pendapatan keluarga,” katanya.

Dengan 92,7 persen rumah di wilayah studi beratap seng, panas terperangkap berlebihan. Akibatnya, 80,3 persen responden kesulitan tidur dan 55 persen nelayan bangun tetap lelah. “Suhu malam hari naik lebih cepat dan merusak kualitas serta durasi tidur,” tegas Safarina.

Selain dampak fisik, krisis mental juga muncul. Sebanyak 31,7 persen responden sulit tidur karena cemas memikirkan ketidakpastian iklim dan mata pencaharian. Di kalangan nelayan Indramayu, angkanya mencapai 65,3 persen. Selain itu, 39 persen merasa lebih mudah marah dan 37 persen pernah merasa tertekan. Kondisi diperparah oleh 33 persen responden yang memilih tidak berobat saat sakit karena terkendala biaya, waktu, dan takut kehilangan pendapatan harian.

Perwakilan Direktorat Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Nurasni, menyambut laporan tersebut. Ia menyoroti empat penyakit sensitif iklim: demam berdarah, malaria, ISPA, dan diare.

“Peningkatan suhu udara mempercepat siklus perkembangbiakan nyamuk. Dari yang mestinya sepuluh hari dari telur menjadi nyamuk dewasa, kini dalam seminggu sudah bisa menularkan penyakit,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan Puskesmas Keliling dan kunjungan rumah untuk menjangkau petani dan nelayan yang selesai bekerja sore hari.

LaporIklim dan KRKP merumuskan enam arah kebijakan, mulai dari penguatan sistem kesehatan adaptif panas, perluasan perlindungan sosial dan asuransi, penyusunan panduan keselamatan panas yang terhubung dengan peringatan dini BMKG, adaptasi berbasis komunitas, integrasi risiko panas ke perencanaan daerah, hingga perhatian eksplisit pada kesehatan mental dan kelompok rentan.

Bagi para petani dan nelayan di garis depan, ancaman itu sudah nyata. Bukan lagi soal panen yang gagal atau laut yang tak menentu, melainkan soal tubuh yang semakin lemah dan pikiran yang semakin berat menanggung ketidakpastian.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan