Survei Ungkap 78 Persen Petani dan Nelayan Alami Sengatan Panas Berat, Kesehatan Mental Ikut Terancam

Survei Ungkap 78 Persen Petani dan Nelayan Alami Sengatan Panas Berat, Kesehatan Mental Ikut Terancam
Program Officer LaporIklim Fajar Sanintan, Koordinator Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan Said Abdullah, dan Jurnalis Senior Kompas Ahmad Arif saat menjadi narasumber dan moderator dalam Forum Dialog Kebijakan Nasional bertajuk "Panas yang Tak Terlihat" di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (24/9/2026) (Dokumentasi LaporIklim).
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Krisis iklim di Indonesia tidak hanya mengancam hasil panen dan tangkapan ikan. Di Indramayu, Jawa Barat, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur, panas ekstrem dan cuaca tak menentu sudah merusak tubuh serta pikiran para petani dan nelayan yang memasok pangan sehari-hari.

Temuan itu diungkapkan dalam kertas posisi berjudul “Panas yang Tak Terlihat: Mengapa kesehatan petani dan nelayan harus menjadi agenda utama adaptasi iklim Indonesia”. Dokumen yang diluncurkan LaporIklim bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di bawah Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) itu dipaparkan dalam Forum Dialog Kebijakan Nasional di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis, 24 September 2026.

Survei cepat terhadap 300 petani dan nelayan di dua wilayah tersebut menunjukkan angka yang mencolok. Sebanyak 78,3 persen responden mengaku pernah mengalami kram otot berat, pusing hebat, hingga hampir pingsan saat bekerja di bawah terik matahari. Di Indramayu, 47 persen nelayan pernah hampir pingsan saat melaut. Angka itu selaras dengan fakta bahwa 94,7 persen nelayan di wilayah yang sama pernah menghadapi cuaca ekstrem langsung di tengah laut.

Dampaknya langsung terasa di lapangan. Sebanyak 91 persen pekerja terpaksa menghentikan aktivitas sementara, 92,3 persen mengalami penurunan kecepatan kerja, dan 84 persen merasa beban kerja kini jauh lebih meletihkan.

Situasi semakin pelik karena dilema alat pelindung diri. Meskipun 95–96 persen petani menggunakan pestisida, hanya 35–40 persen yang memakai APD lengkap. Pakaian pelindung yang tebal justru menjebak panas, sehingga banyak petani melepasnya dan terpapar bahan kimia berbahaya.

Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG, Siswanto, menjelaskan tren pemanasan yang semakin mengkhawatirkan. Suhu rata-rata nasional mencatat rekor 27,52°C dengan anomali +0,8°C, sejalan dengan suhu global yang menembus batas 1,5°C. Fenomena asimetri pemanasan diurnal membuat suhu malam naik lebih agresif dibanding siang hari, merampas waktu pemulihan alami tubuh.

“Ketika stres termal Universal Thermal Climate Index melampaui 38°C, sistem termoregulasi tubuh berisiko gagal total,” ujar Siswanto.

Proyeksi lokal menunjukkan laju pemanasan malam di Indramayu mencapai +0,41°C per dekade, sementara Kupang mengalami lonjakan suhu rerata +0,33°C per dekade yang memicu hari tanpa hujan panjang. Perubahan pola atmosfer ini mendorong bencana hidrometeorologi mendominasi 98 persen dari rerata 3.000 bencana tahunan di Indonesia.

Tim peneliti sekaligus Koordinator KRKP, Said Abdullah, mengkritik kebijakan adaptasi pemerintah yang masih terlalu fokus pada target produksi.

“Petani yang berdaulat tidak cukup hanya diberi bantuan pompa air dan traktor. Selama ini adaptasi lebih ke arah produksi supaya gudang Bulog penuh, tetapi kebijakan agar petaninya tidak sakit dan nelayannya tidak meninggal itu belum ada,” tegasnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan