Survei APCO: Perubahan Iklim Jadi Prioritas Global, Masyarakat Ingin Transparansi
Klikhijau.com - Perubahan iklim adalah keadaan darurat terbesar bagi masyarakat di seluruh dunia, tetapi masyarakat terbagi dalam cara mengatasinya, menurut survei Climate Action Confidence Tracker ya...
Klikhijau.com - Perubahan iklim adalah keadaan darurat terbesar bagi masyarakat di seluruh dunia, tetapi masyarakat terbagi dalam cara mengatasinya, menurut survei Climate Action Confidence Tracker yang dilakukan APCO Worldwide, survei global perdana yang diluncurkan bersama World Business Council for Sustainable Development (WBCSD).
Berikut adalah temuan utama survei ini:
- Perubahan iklim mendominasi kekhawatiran global. 40% individu melihat perubahan iklim sebagai kekhawatiran utama mereka.
- Peran bisnis dan teknologi sangat penting untuk mencapai target iklim. Sebanyak 70% responden setuju akan peran penting dalam meningkatkan inovasi bisnis dan teknologi untuk mencapai target iklim Perjanjian Paris. Hal ini menegaskan pentingnya peran sektor swasta dalam mendorong solusi berkelanjutan.
- Kerangka kerja yang jelas dan transparan sangat dibutuhkan. Jauh dari perasaan “climate fatigue”, hampir 60% responden setuju bahwa mereka tidak mendengar informasi yang cukup dari organisasi atau individu terkemuka tentang perubahan iklim.
- Pemberian insentif lebih baik daripada sanksi untuk mempercepat aksi iklim dari sektor bisnis. Pendapat bervariasi mengenai pemberian insentif untuk perilaku baik atau memberlakukan sanksi untuk mempercepat tindakan dari sektor bisnis. Namun, mayoritas responden setuju bahwa negara yang menyumbang emisi gas rumah kaca terbesar seharusnya membayar lebih untuk membantu mengatasi masalah ini.
- Loyalitas karyawan terikat dengan tanggung jawab iklim perusahaan. Survei ini menemukan bahwa karyawan akan lebih setia dan bersedia merekomendasikan perusahaan yang mengedepankan aksi iklim, yang menekankan pentingnya tanggung jawab perusahaan (corporate responsibility) dalam mempertahankan dan menarik
- Sebagian publik optimis bahwa dunia akan mencapai target-target terkait perubahan iklim — 55% responden merasa bahwa pencapaian target net zero global pada tahun 2050 pasti atau mungkin dapat dicapai, namun tingkat kepercayaan ini sangat bervariasi antar wilayah.
- Beberapa wilayah berkembang muncul sebagai yang paling optimis terhadap target net Sebaliknya, Eropa adalah satu-satunya wilayah di mana kurang dari separuh penduduknya percaya pada pencapaian target net zero global.
- Publik menilai organisasi internasional (53%) dan organisasi non-pemerintah (52%) sudah melakukan upaya yang cukup untuk mengatasi isu perubahan iklim. Namun, publik menyatakan hanya 39% perusahaan besar dan 43% pemerintah mereka melakukan upaya yang cukup untuk bergerak menuju target net zero pada tahun 2050.
- Terdapat dukungan kuat terhadap konsep emisi yang dihindari (avoided emissions), tetapi hanya jika ada standar pengukuran yang objektif. Hampir tiga dari empat orang setuju bahwa tindakan terhadap emisi yang dihindari merupakan cara yang baik untuk melihat dampak perusahaan terhadap iklim (73%).
- Meskipun mendukung kuat ide investasi iklim, publik tidak mendukung semua jenis trade-off dalam pengeluaran pemerintah. Saat ditunjukkan potensi skenario trade-off, publik menunjukkan dukungan paling kecil terhadap pengurangan pengeluaran layanan kesehatan (29%). Di sisi lain, dukungan publik terhadap peningkatan pengeluaran untuk inisiatif iklim paling tinggi ketika melibatkan trade-off dengan pengeluaran pertahanan (47%).
- Dalam setiap skenario trade-off, baik untuk pengeluaran pemerintah maupun perusahaan, publik yang memiliki informasi yang cukup mengenai isu iklim menunjukkan dukungan yang lebih besar dibandingkan yang tidak memiliki informasi
- Karyawan juga cenderung mendukung peningkatan investasi iklim di perusahaan mereka jika mereka mendapatkan informasi yang cukup mengenai isu yang diangkat. Hampir setengah dari mereka yang merasa cukup terinformasi (47%) mengatakan bahwa mereka akan mendukung peningkatan pengeluaran iklim meskipun hal itu berarti kenaikan gaji yang lebih rendah, sementara hanya 33% karyawan yang tidak memiliki informasi cukup mendukung hal ini.