Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Surati Aku di Pelukan Siapa pun Kamu Kini

Surati Aku di Pelukan Siapa pun Kamu Kini   Surati aku di riuh mana pun kamu berada alamatku tak pernah berubah, di hatimu sekarang pun aku sedang menulis namamu di pohon-pohon, di sepanja...

Oleh Tim Redaksi 07 Aug 2021 03:30 4 menit baca

Surati Aku di Pelukan Siapa pun Kamu Kini

  Surati aku di riuh mana pun kamu berada alamatku tak pernah berubah, di hatimu sekarang pun aku sedang menulis namamu di pohon-pohon, di sepanjang jalan itu. Kuhirup sunyi paling sunyi kupangku jaket warna coklat pemberianmu ketika kuantar ke rumahmu “kenakanlah!” saranmu aku jadi penurut hingga kini jaket itu belum kucuci ….ada gambar tanganmu…. Suratilah aku dari arah mana pun di depan rumah ada kantor pos. semua pegawainya mengenalku telah kuceritakan pula tentangmu mereka berkali-kali datang ke rumah ingin lihat foto ukuran 3R-mu yang kusimpan di saku jaket pemberianmu …….mereka penasaran… Kubiarkan saja, agar tiap hari ada menyapa, membelikanku rokok dan aku punya pendengar cerita tentangmu Dulu, ketika jalan di kampung kita belum diaspal kita senang bermain air sisahan hujan kita acap sulapi jadi cermin sekarang hujan mengerikan Surati aku, di sunyi mana pun kamu menulis aku masih di alamat yang sama, di rindumu suratmu akan sampai meskipun kau titip pada hujan ceritakan dalam suratmu perihal puisi-puisi malam yang kutulis padamu Aku sering mengirim puisi padamu meski aku ragu apakah sampai atau tak tak sekalipun kuterima balasannya. Surati aku, tolong ceritakan luka bakar di bahu kirimu ketika kita bermain rumah-rumahan di belakang rumah rumah-rumahan kita dari daun pisang terbakar hebat punggungmu tertimpa pelepahnya baju bermotif pelangimu sobek ……..aku pilu kala itu…. Lalu di sebuah waktu, ketika aku belum bangun mobil puang haji membawamu ke kota aku tak tahu kota mana tak ada peta kota di pikiran kita ……kamu tahu, kampung kita berubah kota kecil… sawah ditanami beton Surati aku, di pelukan siapa pun kamu kini di sini, di sudut jendela aku menatap rumahmu sengnya kecoklatan dindingnya mulai rapuh tiangnya telah keropos …..jika saja ibu tak melarangku, telah kufoto. kukirim ke kantor koran di kota rumahmu, di pagari warga dengan ilalang. bibit beton mulai ciumi jalan ke rumahmu Surati aku akan kubalas kuceritakan kampung kita yang mulai kusut…. sungai tempat kita biasa berenang kini berubah coklat anak-anak gatal usai berenang …..kampung kita berwajah kota, sayang.. aku takut ketika kau pulang tak lagi mengenalnya Suratilah aku sebelum pulangmu kujemput di gerbang kampung ....jaket pemberianmu akan kukenakan.... rumah kekasih, 30/1/2014 [irp]
****

Penanda di Bulan Juli

  Kita lupa pernah berbalas puisi di bulan juli kau katakan aku hijau kukatakan kau hujan lalu kita menuju halaman rumah ..…..menunggu hujan….. aku tak membawa payung kau tak memakai jaket angin berhembus kencang penanda hujan akan datang daun-daun terbang di sekeliling kita mencari pendaratan paling aman beberapa daun tak sampai ke tanah ada yang tertinggal di reranting pohon Matamu liar di bulan juli menatap kali di depan rumah kau mencari reranting yang di bawa hujan. hanyut di kali itu. aku selalu menyukai aroma tubuhmu jika kuyup aku juga suka melihat tetets hujan dari rambutmu membasahi baju birumu yang bergambar bulu mata. Kau hujan aku hijau barangkali kita memang ditakdirkan saling melengkapi namun usia ternyata berbicara lain hujan pergi gugur pun berserakan Kini juli datang dengan wajah muram juli tak temukan kita di halaman menunggu hujan juli tak menemukan hujan merembes ke tanah di halaman dan kali di depan rumah itu telah di semen oleh ayahku airnya keruh reranting pohon tak lagi bisa hanyut di kali itu …….jika kau tahu, kau akan menangis….. ….…aku berkali-kali menangis. berubah hujan air mataku. Aku lupa bertanya kapan kau pulang? membawa payung? membawa jaket? lalu kita berbalas puisi ini juli kesekian tiadamu kau hujan aku hijau tapi halaman rumah mulai tandus tak ada lagi pepohonan mengirim daun keringnya aku hijau kau hujan atau barangkali tak lagi begitu …….kita lihat saja hingga juli tak mengirim penanda….. Makassar, 1 Juli 2013 Harian Fajar, 25 Agustus 2013 [irp]
*****

Waktu Merah

  Ini serupa teka teki yang terus kau cari jawabannya. malam datang lebih awal. pagi tiba lebih lama. pohon-pohon lupa serap air di mana. Kiriman beras dari kampung perlahan punah. sawah, kata ayah, mulai suka ngambek. iri pada sawah kota yang jelma lebih cantik. penuh lampu-lampu, dan tentu saja desah. Ada sepasang kekasih, lepas dahaga di bibir kekasihnya, di bawah pohon pada sebuah kampus. cuaca sedang merah barangkali saat itu. atau perut sedang lapar, beras tak kunjung datang dari kampung. sepasang kekasih saling menyumbang napas. Teka-teki sedang tumbuh, berpetak-petak di kepala gantikan petakan sawah. burung pipit hijrah ke dalam celana. jerami-jerami tumbuh di ketiak. Tatapan enggan berkedip, matahari merangkak ke barat. malam turun, sepasang kekasih itu berjalan pulang dari kampus. waktu sedang merah. Mereka sedang mencari butiran beras di tubuh masing-masing, di atas sawah yang tak lagi berlumpur. tanah telah mengeras. Rumah kekasih, 21 Feb 2017 [irp]
Topik terkait
#puisi #puisi lingkungan #puisi alam #sastra dan lingkungan #sastra #surat