Strategi Penyelamatan Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Klikhijau.com – Keanekaragaman hayati (biological diversity) atau disebut dengan singkat biodiversity adalah keberagaman di antara makhluk hidup dari semua ekosistem, termasuk daratan, laut dan perair...

Strategi Penyelamatan Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Keanekaragaman hayati (biological diversity) atau disebut dengan singkat biodiversity adalah keberagaman di antara makhluk hidup dari semua ekosistem, termasuk daratan, laut dan perairan lainnya dan kompleks ekologis dimana makhluk hidup itu hidup.

Keanekaragaman makhluk hidup ini secara umum dikategorikan pada tiga tingkatan, yakni: tingkat ekosistem, tingkat spesies dan tingkat genetik. Di antara ketiganya, keanekaragaman genetik merupakan tingkat keanekaragaman yang paling mendasar yang terjadi di antara individu dalam populasi spesies yang sama, maupun antara satu populasi dengan populasi lainnya.

Untuk diketahui, Indonesia adalah negara dengan mega-deversity di dunia. Indonesia menguasai sekira 60 % dari 22 juta dari 22 juta hektare kawasan hutan Heart of Borneo yang diyakini sebagai ekosistem hutan dengan tingkat kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Faktanya, ancaman kepunahan satwa sedang mengancam saat ini di Indonesia. Ada beberapa persoalan, terutama eksploitasi sumber daya alam dan deforestasi yang meningkat setiap tahun. Simak 5 Penyebab Kepunahan Satwa dan Tumbuhan serta Cara Mengatasinya!

Padahal, keanekaragaman hayati (Kehati) memiliki manfaat luar biasa, lihat di SINI! Lalu bagaimana strategi penyelamatan Keanekaragaman hayati di Indonesia?

Mubariq Ahmad (Akademisi UI dan Direktur WWF Indonesia 2003-2009) menjelaskan beberapa strategi yang bisa dilakukan, sebagaimana ditulis dalam artikelnya berjudul “No Net Loss! Strategi Mempertahankan Keanekaragaman Hayati”, sebagai berikut:

Strategi penyelamatan keanekaragaman hayati



  • Menetapkan ukuran sebagai indikator Kehati



Keanekaragaman hayati, seperti keuntungan dalam bisnis, perlu dikelola secara secara terukur sehingga secara periodik dapat dievaluasi tingkat keberhasilan pengelolaan Kehati tersebut. Ketiadaan ukuran yang kongkrit menjadi tantangan utama pengelolaannya.

Menurut Mubariq Ahmad, perlu ada ukuran kongkrit, betapa pun tidak sempurnanya. Hal yang bisa diambil, misalnya, kerapatan atau jumlah jenis flora per hektar hutan yang ingin dijadikan sarana penyelamatan Kehati.



  • Menciptakan harga bagi kegiatan internalisasi dan upaya penyelamatan Kehati



Ekosistem dan Kehati, serta jasa yang ditimbulkannya adalah barang atau jasa publik yang tersedia secara alami atau tercipta sebagai eksternalitas positif dari kegiatan pihak-pihak tertentu.

Kegiatan agroforestry di daerah tangkapan air di hulu sungai misalnya, tulis Mubariq, secara nyata berkontribusi dengan memproduksi jasa ekosistem pengelolaan alami atas risiko banjir di hilir. Tanpa kompensasi atas eksternalitas positif ini, jasa ekosistem untuk pengelolaan banjir tersebut akan diproduksi lebih sedikit dari yang diperlukan masyarakat.

Oleh sebab itu, pemerintah dapat menciptakan harga atas Kehati melalui pengenaan pajak atas kerusakan Kehati (seperti pollution tax), penetapan kewajiban kompensasi bagi pelaku penyelamatan Kehati (misalnya pengelola taman nasional, yang jasa ekosistemnya dinikmati bisnis di sekitarnya), atau mewajibkan ganti kawasan untuk Kehati (biodiversity off set) bagi perusahaan yang secara langsung memiliki dampak negatif terhadap Kehati.



  • Mengembangkan instrumen untuk memastikan balas jasa lingkungan



Pengembangan berbagai instrumen, mekanisme dan kelembagaan untuk memastikan balas jasa lingkungan (atau lebih dikenal sebagai payment for ecosystem services, PES) untuk Kehati yang berasal dari pajak maupun kewajiban kompensasi disalurkan dan digunakan untuk kegiatan penyelamatan Kehati.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2