Senapan Angin dan Burung

Senapan Angin dan Burung
Bacakan Artikel

Meski begitu, Bapak melarang keras kami mencoba menggunakannya. Kenapa? Pokoknya tidak bisa, bahayya! Kami patuh atas hal itu. Selain karena senapan itu agak seram, juga karena perlu tenaga ekstra mengangkatnya untuk ukuran anak-anak belasan tahun.

Jadi, senapan itu benar-benar hanya pajangan. Perlakuannya tak jauh beda dengan sepeda balap BMX kami. Hanya sesekali saja dipakai menembak burung yang bertengger dekat rumah. Namun, tak sekalipun pernah menerpa sasaran. Tentu saja selain karena Bapak bukanlah penembak jitu, juga karena memang tidak diniatkan secara serius menembak burung. Lagi pula kalau ada burung yang kena peluru, akan diapakan setelahnya? Kami masih lebih bergairah menikmati olahan ikan-ikan dari sungai, ketimbang memanggang burung bertubuh kecil. Sekali lagi, Bapak hanya menyimpannya sebagai benda antik. Bahasa lainnya pajjaga bola.

Senapan Berpindah Tuan dan Satu Kisah

Pada masanya, Bapak merelakan senapan itu itu pergi tanpa pernah mengenai seekor burung pun. Mengapa tak pernah dipakai menyasar burung? 

Suatu waktu, beberapa bulan setelah senapan itu berpindah tuan, Ibu berkisah begini: seorang anak karena durhaka pada Ibunya kemudian menjelma burung. Burung itu mendatangi seorang petani yang sibuk mencangkul di ladang. Burung itu berkicau bahkan mendekat mengitari Pak Tani. Seolah ingin menyentuh kepala dan membisikkan suatu pesan. Gelagat itu membuat Pak Tani terperangah. Dalam hatinya bergumam, apakah burung ini membawa pertanda buruk atau seekor burung jelmaan. Ia segera pulang ke rumahnya. Betapa terkejut mendengar cerita dari istrinya, tentang anak lelakinya yang menjelma burung karena durhaka telah menghardik Ibunya saat disuruh angkat air dari sumur. Sang Bapak, menangis tersedu-sedu. Ia yakin betul bahwa burung yang mendatanginya di sawah tadi adalah jelmaan anak lelakinya satu-satunya. Kisah ini telah tersebar seantero kampung. Menjelma suatu mitos untuk tidak sembarang menangkap burung.

Kisah ini rupanya jadi alasan mengapa senapan burung itu hanya jadi pajangan. Kata Ibu, tidak boleh sembarang menangkap burung. Ibu sangat terinspirasi dari kisah itu.

Lalu, tiga atau lima tahun setelahnya. Saat saya duduk di Sekolah Menengah Pertama. Semakin banyak orang berlalu Lalang mengintai burung-burung di pepohonan. Burung-burung berjatuhan layaknya buah mangga masak terkena peluru panas. Tragedi kematian burung yang justru membanggakan para pemilik senapan. Di kios-kios klontong, peluru-peluru senapan diperjualbelikan bebas. Bagaimana kabarnya senapan kami setelah berpindah tangan? Mungkin sudah membunuh puluhan atau ratusan burung-burung. 

Tak lama berselang, kabar kematian dua anak lelaki kembar menggemparkan kampung halaman. Keduanya meninggal mendadak, sehari setelah pesta makan ratusan burung-burung hasil buruan. Mereka menangkap burung dengan memakai getah pohon Nangka. Menyantapnya dengan buas tanpa timbang-timbang. Bersama beberapa kawan, kami jadi saksi hidup bagaimana kedua anak itu melahap burung-burung kecil. Itulah kali pertama saya melihat burung-burung disajikan sebegitu banyaknya.

Hanya berselang beberapa tahun setelahnya, kampung kami seolah ditinggalkan kawanan burung. Senja hari saat baru pulang dari Sekolah Menengah Atas, saya tersadar betapa hanya ada belasan ekor burung yang melintas malu-malu di langit-langit. Sementara jumlah senapan yang beredar di kampung bahkan sudah lebih banyak dari spesies burung yang dijadikan sasaran. Kelangkaan burung seolah menandai rapuhnya ruang kebebasan manusia. Dari layar smartphone dan televisi, kabar buruk beredar tiada henti tentang senjata api yang pelurunya menyasar orang-orang tanpa kendali. Apa karena manusia memang terbiasa menggunakan senjata untuk merampas jiwa-jiwa? 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2