Selain Bikin Sehat, Ini Manfaat Lain Permainan Tradisional Bagi Anak

Klikhijau.com -  Jika kamu datang ke kampung saya di kisaran tahun 90an hingga 2000an. Kamu akan mudah temukan anak-anak bermain baguli 'kelereng' dengan riang di halaman rumah. Kamu juga akan temu...

Selain Bikin Sehat, Ini Manfaat Lain Permainan Tradisional Bagi Anak
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com -  Jika kamu datang ke kampung saya di kisaran tahun 90an hingga 2000an. Kamu akan mudah temukan anak-anak bermain baguli 'kelereng' dengan riang di halaman rumah.

Kamu juga akan temukan dengan mudah anak perempuan main karet. Tak, hanya itu, kamu akan temukan juga anak-anak main perang-perangan dengan menggunakan bedil dari ranting bambu. Pelurunya adalah kertas.

Apakah hanya permainan itu, tentu saja tidak, masih banyak permainan tradisional lain yang bisa kamu temukan.

Namun kini, jika kamu ke kampung saya, anak-anak bermain seperti itu mulai berkurang. Maka jika ada hal yang perlu diresahkan akan punah, maka permainan tradisional salah satunya.

Banyak bukti membuktikan hal itu. Anak-anak sekarang lebih suka tinggal di rumah bermain gawai atau nonton TV daripada bermain di luar bersama.

Pun banyak orang tua jadi "korban" iklan bahwa bermain di luar tak sehat. Anak akan mudah terserang sakit, pun tak sedikit orang tua yang akan marah jika baju anaknya kotor.

Padahal permainan tradisional menurut Brand Manager Combantrin  Mitchelle S. Putra biasanya dimainkan anak bersama temannya, mereka mainnya pun keluar rumah.

Redefinisi arti bermain

Selain itu, permainan tradisional biasanya melibatkan aktivitas fisik. "Ini definisi bermain yang sebelumnya kita kenal," ujarnya disela wawancara eksklusif di Jakarta, Selasa, 6 Agustus 2019 seperti yang ditulis Desy Susilawati di republika.co.id

Menurut Mitchella, permainan zaman sekarang di era teknologi jauh berbeda. Fenomena yang marak terjadi disekitar kita anak-anak telah melakukan redefinisi arti bermain.

Bermain yang tadinya penuh aktivitas fisik, ada interaksi sosial sekarang menjadi lebih individualis dan diam atau aktif bergerak.

"Yang jadi ironi ini terjadi karena semua asyik dengan gadget masing-masing. Orang tua juga ketergantungan pada gawai. Kemungkinan besar anak-anak meniru apa yang kita lakukan. Kita asyik sendiri main dengan gawai kita. Anak-anak pikir ini adalah hal menyenangkan dan dewasa. Anak-anak meniru dan ketergantungan dengan gawai," kata dia.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2