Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Sajadah Subuh di Akar Walenreng

subuh turun dan menangis di atas sajadah. bergegas pergi sebelum pagi ia menyisa kantuk, juga segar berjanji esok akan datang lagi menagih janjinya sendiri. rumah sepi damai di subuh itu akar c...

Oleh Irhyl R Makkatutu 26 Apr 2019 23:36 1 menit baca
subuh turun dan menangis di atas sajadah. bergegas pergi sebelum pagi ia menyisa kantuk, juga segar berjanji esok akan datang lagi menagih janjinya sendiri. rumah sepi damai di subuh itu akar cinta rambati temboknya yang baru di cat. angin menjenguk jendela, usir pengap dan polusi di tempat pernah kamu duduk, aroma pinus bertunas manis. erami waktu, rawat ingatan kamu di mana-mana, bahkan saat tiadamu sekalipun. [irp posts="351" name="Tangisan Selembar Daun"] sajadah tersentuh jidat subuh itu puja puji meruah tembusi langit matamu yang layu. kantuk terkantuk-kantuk di sana aku temukan diriku merayu-rayu subuh yang tiba adalah ketukan rindu langit rayuan cinta bumi, di mana kita saling memuja puji. cinta melingkar, ikatkan dirinya pada akar-akar walenreng. ......aku dan kamu ditutup kata amin....
Penulis: Mahira Ayu, lahir di Sulsel, saat ini menetap di Kalimantan. Ia menyukai puisi sejak jatuh cinta pada seorang penulis yang kini menjadi pendamping hidupnya. Ia adalah pekerja yang sangat sibuk sebagai ibu rumah tangga.
[irp posts="548" name="Patok di Tengah Petak Sawah"]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra ekologis #puisi dan ekologis #menjaga alam dengan puisi