Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Saat Padi Lokal Punah, Ritual dan Cara Memuliakan Alam Ikut Lenyap

Klikhijau.com - Bagi sebagian besar masyarakat modern, sebutir padi mungkin hanya dipandang sebatas komoditas pangan, pengisi piring di meja makan, atau angka-angka dalam perputaran ekonomi penopang...

Oleh Arman Jaya 30 Jun 2026 09:29 5 menit baca

Klikhijau.com - Bagi sebagian besar masyarakat modern, sebutir padi mungkin hanya dipandang sebatas komoditas pangan, pengisi piring di meja makan, atau angka-angka dalam perputaran ekonomi penopang penghasilan. Namun, jika kita melangkah lebih dalam ke berbagai wilayah komunitas adat di penjuru Nusantara, padi memiliki kedudukan yang jauh melampaui urusan perut.

Di sana, padi adalah napas kebudayaan yang melekat erat pada penamaan, bahasa, ritual spiritual, benteng pengetahuan tradisional, serta kompas moral masyarakat dalam menjaga keharmonisan dengan alam raya.

Keragaman ini ditegaskan oleh Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), Cindy Julianty, yang mengungkapkan bahwa komunitas adat di Indonesia merawat varietas padi lokal secara spesifik, di mana setiap jenisnya memiliki nama, fungsi, dan posisi sakral tersendiri dalam siklus kehidupan mereka.

[irp]

Padi-padi ini tumbuh bukan sekadar untuk dipanen, melainkan memiliki pembagian peran yang ketat, ada yang dikhususkan untuk konsumsi harian, ada yang wajib hadir dalam ritual adat tertentu, dan ada pula varietas yang posisinya mutlak tidak dapat digantikan karena mengemban fungsi spiritual serta ekologis yang mendalam bagi komunitas tersebut.

Melalui kacamata ekologis yang lebih luas, Cindy mengingatkan bahwa hilangnya satu varietas padi lokal tidak boleh disederhanakan sebagai kepunahan satu jenis tanaman pangan belaka. Di balik sebutir benih lokal yang hilang, sesungguhnya ada patahan besar dalam sistem pengetahuan tradisional yang selama ini menghubungkan manusia, kesuburan tanah, aliran air, pergeseran musim, penghormatan kepada leluhur, hingga tata cara hidup berdampingan dengan alam.

Ketika padi lokal ini perlahan lenyap dari ladang-ladang adat, rentetan ritual yang melingkupinya pun otomatis ikut terkikis dan menghilang dari memori kolektif. Ironisnya, saat ritual-ritual tersebut tak lagi dipraktikkan, cara pandang masyarakat terhadap sumber daya alam di sekitarnya dipastikan akan ikut bergeser secara drastis.

[irp]

Padi yang tadinya dianggap sakral dan dihormati kini menyusut maknanya menjadi sekadar barang dagangan yang dinilai dengan uang, dan pada titik krusial inilah, ikatan batin serta hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta perlahan-lahan mulai melemah dan menuju ambang kehancuran.

Ketahanan kultural ini sebenarnya telah teruji melintasi waktu di sejumlah komunitas adat, seperti yang dapat kita saksikan pada masyarakat Kasepuhan dan Baduy yang masih setia merawat warisan leluhur mereka.

Bagi mereka, keberadaan lumbung padi tradisional bukan sekadar bangunan kayu tempat menyimpan cadangan pangan demi bertahan hidup, melainkan sebuah institusi adat yang berfungsi sebagai sistem perlindungan benih, pusat pelestarian pengetahuan, dan jaminan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

[irp]

Masyarakat adat ini memiliki kearifan lokal yang genius dalam memastikan benih-benih padi mereka tetap prima dan bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, mulai dari teknik penyimpanan tradisional yang rapi hingga pemanfaatan jenis tumbuhan hutan tertentu sebagai bahan pengawet alami di dalam lumbung agar terhindar dari hama.

Praktik-praktik otentik inilah yang dikategorikan oleh Cindy sebagai bagian dari warisan biokultural yang hidup dan bernyawa di dalam rahim masyarakat adat, sebuah konsep yang tidak hanya menghitung keanekaragaman hayati secara kuantitatif, tetapi juga merayakan jalinan relasi, bahasa, spiritualitas, serta lanskap geografis tempat masyarakat itu bernaung.

Sayangnya, warisan biokultural ini kini berada dalam posisi yang sangat rentan untuk punah dari bumi Nusantara akibat desakan modernisasi dan cara pandang yang eksploitatif.

[irp]

Cindy menekankan sebuah alarm peringatan bahwa ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan spiritual dan emosional dengan alam, maka alam lingkungan akan dengan sangat mudah didegradasi posisinya menjadi sekadar objek mati yang pasif.

Saat alam hanya dilihat sebagai penyedia pasokan tanpa batas untuk memenuhi syahwat kebutuhan manusia, maka tindakan eksploitasi besar-besaran dan perusakan ekosistem akan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan legal demi keuntungan sesaat.

Oleh karena itu, WGII menilai warisan biokultural ini jauh lebih rapuh dan lebih rentan hilang dibandingkan dengan keanekaragaman hayati itu sendiri, sebab ancaman nyata hari ini bukan lagi sekadar punahnya satu spesies satwa atau menciutnya luasan hutan, melainkan putusnya seluruh jaring-jaring relasi yang mengikat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut menjadi satu kesatuan kosmos yang utuh.

Momentum untuk menggugah kesadaran global ini kini mengemuka menjelang pelaksanaan Konferensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati atau CBD COP17 yang dijadwalkan berlangsung di Yerevan, Armenia, pada Oktober 2026 mendatang. WGII mendesak agar agenda perlindungan terhadap wilayah kelola masyarakat adat dan komunitas lokal tidak lagi dilihat secara sempit, melainkan harus diletakkan dalam spektrum ekosistem budaya yang jauh lebih luas.

[irp]

Berbekal data otentik yang dihimpun oleh WGII, saat ini terdapat lebih dari satu juta hektare wilayah ICCAs (Indigenous Peoples and Local Community Conserved Territories and Areas) yang telah terdokumentasi dengan baik di Indonesia, membuktikan secara nyata bahwa denyut nadi pengetahuan dalam menjaga rahim alam masih sangat hidup dan dipraktikkan secara konsisten di berbagai pelosok negeri.

Perlindungan wilayah-wilayah ini pada akhirnya bukan lagi sekadar urusan memagari kawasan hutan atau menghitung jumlah spesies yang tersisa, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk menyelamatkan pengetahuan kuno, keunikan bahasa, kesakralan ritual, dan praktik hidup yang tumbuh mekar bersama alam.

Tantangan terbesar kita hari ini bukanlah perkara teknis menyelamatkan tegakan pohon di hutan, melainkan bagaimana menjaga api pengetahuan yang hidup bersama ekosistem tersebut, karena kita harus sadar sepenuhnya bahwa ketika satu jenis padi lokal hilang, yang sirna dari muka bumi bukan sekadar sebatang tanaman, melainkan runtuhnya sebuah ritual, hilangnya ingatan sejarah, dan bergesernya cara manusia memandang alam semesta.

Topik terkait
#masyarakat adat #pangan lokal #padi #biokultural