Rumput Laut dari Tangan Ibu-ibu Pulau Sembilan

Klikhijau.com - Rumput Laut menjadi komoditas ekspor utama untuk sektor kelautan dan perikanan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan tingginya permintaan dalam dan luar negeri un...

Rumput Laut dari Tangan Ibu-ibu Pulau Sembilan
Bacakan Artikel

Selain pekerjaan yang tak terlalu sulit, upah yang diterima para ibu ini dirasa cukup untuk dipakai makan sehari-harinya. Dalam pekerjaan mengikat rumput laut ini, upah dibayarkan dengan hitungan perkilonya.

Setiap 1 kilo rumput laut yang mereka ikat akan diberi upah Rp. 3.500. Untuk satu harinya, sebagian besar ibu-ibu ini mampu mengikat 10 kilo rumput laut atau ditukar dengan upah Rp. 35.000. Upah mereka akan dibayar sekaligus jika telah mencapai nominal beberapa juta rupiah.

Salah seorang ibu menjelaskan, “uang ini untuk dipakai makan sehari-hari bersama anakku. Apalagi suamiku belum pulang selama beberapa bulan, jadi nelayan pattongkolo’ (penangkap ikan tongkol),” tuturnya.

Budidaya rumput laut

Rumput laut yang telah diikat tadi akan disimpan di pinggiran pulau dekat tempat jemuran rumput laut. Sebelum itu, untuk mengapungkan dan memberi penanda, tali rumput laut akan diselipkan botol plastik untuk memudahkan mengambil rumput laut ini.

Biasanya esok hari, nelayan dari pulau Kambuno akan singgah di tepi pulau untuk mengambil bibit-bibit ini, untuk selanjutnya di budidayakan di perairan dekat pulau mereka. Bibit rumput laut tadi akan disimpan di satu tempat kemudian dibiarkan membesar beberapa hari kedepan.

Setelah dianggap telah layak panen, rumput laut ini kemudian akan dijemur di penjemuran selama beberapa hari hingga betul-betul kering. Salah satu penanda dari keringnya rumput laut adalah warnanya yang nampak mulai kuning kecoklatan.

Di pulau Buhung Pitue sendiri, ada beberapa tempat penjemuran yang berada di tepi laut. Biasanya anak-anak kecil pulau yang bertugas menjemur rumput laut ini.

Usaha budidaya rumput laut ini sebenarnya dimiliki oleh beberapa pengusaha kecil di pulau Kambuno, tetangga sebelah pulau Buhung Pitue. Pemilik usaha berperan menyiapkan bibit rumput laut sekaligus memasarkan rumput laut kering ke luar Pulau.

Daerah yang menjadi pasar utama penjualan rumput laut kering ini adalah Kota Makassar. Disana, menurut penuturan beberapa pekerja, rumput laut kering akan dibeli perusahaan dengan harga Rp. 10.000 perkilonya.

Rumput laut ini nantinya akan digunakan sebagai bahan baku utama produksi agar-agar kemasan. Meski begitu, beberapa ibu-ibu nampaknya asing dengan agar-agar, komoditas yang mungkin tak lahir tanpa kerja keras mereka.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2