Riuh Kepak Sayap Kupu-kupu Bantimurung yang Berdendang

Klikhijau.com - Kepak sayap warna-warni kupu-kupu Bantimurung menyambut. Satu dua ekor melintas depan mata. Lalu lalang dengan sayap indahnya. Tak ada yang berdiam. Membuat saya tak berdaya. Tak ma...

Riuh Kepak Sayap Kupu-kupu Bantimurung yang Berdendang
Bacakan Artikel

Saya mengambil jalan memotong sungai. Melewati sebuah jembatan. Saya menatap sekeliling. Belum ramai.

Saya sedikit lebih pagi bertandang. Hanya beberapa petugas keamanan sedang bersantai dengan sejawatnya. Satu dua wisatawan mulai berjalan masuk menuju air terjun.

Deru suara air yang jatuh dari air terjun menjadi hiburan. Saya begitu menikmati kunjungan ini. Sepi wisatawan menjadi lebih khidmat menikmati alam indah ini.

Sekeliling mata memandang nampak hijau. Tebing yang menjulang terbungkus permadani belukar dan pepohon.

Tak ada pohon besar, hanya tinggi menjulang. Unsur hara yang tipis pada batuan gamping sepertinya memengaruhinya.

 

Air-terjun-Bantimurung

Lagi pula mana tahan juga pohon besar di tebing curam seperti itu. Akan mudah tumbang oleh tiupan angin dahsyat.

Saya kemudian mendapati kupu-kupu hitam bergaris hijau sepanjang sayapnya. Terbang kemudian hinggap lagi pada genangan air di sempadan sungai.

Dua pasang kaki jenjang bertapak pada batu lembab. Sayapnya terus bergerak. Berkepak pelan. Tampak lentik. Sulurnya meraba-raba lantai basah. Mengisap mineral dari sana.

Tariannya membuat saya terdiam. Menikmati kemayunya serangga bersayap indah ini.

Di balik sayap bawahnya bercorak menawan. Warna dasar hitam. Dua garis berwarna krem muda membelah dari atas.

Di antara kedua garis ini paduan warna orange dan ungu muda berpola. Serupa batik. Menawan hati. Begitulah rupa Papilio gigon menyihir saya seketika. Menggerak-gerakkan sayapnya menciptakan tarian khas.

Tak hanya seekor, lima ekor sekaligus menari indah di depan air terjun yang sejuk tak terkira. Sesekali ia terbang ketika saya membuat gerakan.

Tak lama kemudian hinggap lagi dengan goyangan khasnya. Tampak seekor Cephora celebensis turut serta meramaikan pertunjukan menarik itu.

Tak jauh dari tempat saya berdiam tampak Papilio fuscus juga asyik mengesap, persis di tepian air sungai. Tidak memedulikan wisatawan yang sedang asyik berswafoto. Berswafoto berlatar air terjun.

Kupu-kupu

Saya kemudian terperanjat melihat pemandangan di seberang sungai. Puluhan kupu-kupu menghambur kala seorang wisatawan mendekatinya.

Saya jadi penasaran. Saya kemudian mengambil jalan pintas. Menerabas aliran sungai. Saya hampir terperosot. Dasar sungai licin. Saya akhirnya membuka alas kaki. Bertelanjang kaki menyeberangi sungai.

Betul saja, puluhan bahkan ratusan kupu-kupu sedang asyik bersantap ria. Menikmati minerap pada batuan basah.

Mereka seperti sedang arisan. Berkerumun pada satu tempat. Berkumpul sesuai warna. Hijau, orange, biru, hitam, dan putih menghampar jadi satu.

Hijau adalah kerumunan jenis Catopsilia pomona. Kerumunan orange dari grup Appias zarinda dan A. nero meski tak begitu riuh. Putih berpadu hitam dan biru muda adalah gerombolan terbesar dari Graphium rhesus, Graphium meyeri, dan Graphium euriphylus.

Graphium milon dengan biru tua terangnya yang mencolok. Nampak juga Graphium androcles, Seolah menjadi raja di antara ratusan pasukannya.

Ukurannya yang lebih besar dengan paduan warna yang menawan membuatnya layak menyandang menjadi punggawa kawanan.
Androcles selalu membuat saya antusias jika bertemu. Kepakan sayap tiga warnanya: hijau muda, putih, dan hitam, selalu menarik perhatian.

Ekornya yang menjumbai, menari-nari bak ular-ularan seperti ekor tambahan layang-layang. Saat dia hendak mendarat ekornya seperti gelombang air laut sebelum akhirnya diam dan menegak.

Seolah menjadi pedang. Bersiaga dari musuh. Begitulah rupa androcles yang selalu memikat

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2