Rantai Pasok Pangan yang Rapuh Terbukti Memiskinkan Petani di Desa

Klikhijau.com – Sistem pangan saat ini memang belum berpihak pada petani. Faktanya, problem kemiskinan dan kelaparan justru terjadi di tapak bawah di mana produsen hasil pertanian ada dan bertumbuh....

Rantai Pasok Pangan yang Rapuh Terbukti Memiskinkan Petani di Desa
Bacakan Artikel

Sistem pangan ini juga harus dibangun pada keragaman pangan dan kelokalan dengan mendayagunakan keragaman pangan yang ada dan sistem yang dikelola pada skala lokal.

"Sistem pangan yang berkeadilan adalah sistem pangan yang memungkinkan terpenuhinya hak atas pangan bagi seuruh warga. Kuatnya akses petani pada sumber-sumbr produksi, dan posisi yang setara dan kemanfaatan yang adil bagi seluruh pelaku sistem pangan terutama peyani dan produsen pangan skala kecil," tegas Ayip.

Model pemberdayaan petani

Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Dr. Hagus Tarno mengatakan, dari sisi peningkatan kapasitas petani, pemberdayaan petani bisa dilakukan dengan menggelar sekolah-sekolah lapang pertanian.

Sekolah lapang pertanian sendiri lahir dari kegagalan revolusi hijau yang banyak menekankan penggunaan input-input kimia sintetis dalam upaya peningkatan produksi pertanian dan pengendalian hama.

"Ternyata ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia berdampak pada tingginya kadar residu, dari beberapa penelitian menunjukkan, pada beras yang kita makan kita jumpai banyak residu bahan kimia dalam kadar yang membahayakan kesehatan," ujar Hagus.

Residu kimia tidak hanya pada tanaman tetapi juga terdapat pada tanah. "Itulah sebabnya mengapa tanah kita menjadi semakin rusak karena kadar bahan kimia yang terlalu tinggi," ujarnya.

Kondisi inilah yang kemudian membuat Presiden Soeharto pada tahun 1986 menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1986 yang menjadi landasan munculnya sistem pengendalian hama terpadu (PHT).

Lewat Inpres tersebut pemerintah melarang penggunaan 57 jenis pestisida dan juga mendorong pelatihan PHT melalui pendekatan sekolah lapang (SL).

"SL penting karena di sana tidak hanya memberikan teknologi tetapi juga ada upaya membantu petani agar mau berubah. Perubahan perilaku menjadi target dalam pemberdayaan petani. Perubahan perilaku ini mendorong lahirnya petani terampil, merdeka, kreatif, inovatif dan mampu berkolaborasi," papar Hagus.

Keberhasilan sekolah lapang ini terbukti dengan adanya beberapa perubahan positif dalam praktik pertanian. Pertama, penggunaan insektisida berkurang hingga 35%. Kedua, produksi padi meningkat 7,9%. Ketiga, penggunaan pestisida turun 21%. Keempat, biaya produksi pertanian juga turun hingga 5%.

"Petani dengan sekolah lapang juga memiliki pengetahuan lebih tentang hama dan pestisida daripada petani yang tidak ikut sekolah lapang," pungkas Hagus.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2