Tumpukan Skripsi yang Menggunduli Hutan, Oh My God!

Klikhijau.com - Setiap tahun, ratusan ribu lembar kertas dikorbankan dalam satu ritual akademik yang begitu sakral. Semua dicetak rapi, huruf demi huruf menari di atas lembar putih, namun hanya di sat...

Tumpukan Skripsi yang Menggunduli Hutan, Oh My God!
Bacakan Artikel

Sementara itu, suhu global terus naik, cadangan air bersih menyusut, dan ruang hidup flora-fauna makin menyempit. Tapi halaman kosong dalam naskah akademik tetap dibiarkan menganggur. Tidak ada kebijakan cetak dua sisi. Tidak ada imbauan untuk menggunakan kertas daur ulang. Tidak ada insentif bagi mahasiswa yang mencoba berpikir praktis dan ramah lingkungan. Yang ada hanya aturan kaku dan format formal yang dilestarikan tanpa pernah dipertanyakan.

Kertas-kertas itu, setelah selesai menjalankan tugasnya sebagai alat legitimasi akademik, sering kali berakhir di pengepul barang bekas. Harganya tidak lebih dari seribu lima ratus rupiah per kilogram. Bahkan, dalam pengelolaan limbah, kertas akademik sulit didaur ulang karena banyak mengandung tinta, lem, dan plastik dari sampul.

Begitu banyak seminar diadakan untuk membicarakan perubahan iklim. Begitu banyak artikel dipublikasikan untuk menyuarakan kepedulian pada lingkungan. Tapi langkah sekecil mencetak bolak-balik tetap dianggap terlalu revolusioner. Seolah menyentuh sisi belakang kertas adalah pelanggaran terhadap adat istiadat akademik yang suci.

Halaman-halaman kosong itu pun terus tercipta. Dalam ribuan jilid skripsi, proposal, dan laporan yang katanya penting, tapi sebenarnya hanya simbol bahwa kita masih lebih peduli pada format dokumen daripada nasib planet ini.

Dan seperti biasa, sisi kosong itu tetap diam. Tak pernah dipakai. Tak pernah dibela. Ia hanya jadi bukti lain bahwa dalam dunia yang katanya berpendidikan, logika keberlanjutan masih harus berjuang keras melawan kekuasaan margin dan spasi.

Oh my god!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2