Rusaknya Hutan Mangrove dan Teluk Tembe di Kembar Maminasa

[hijau]Tanggul merentang itulah yang mencuri hijaunya mangrove[/hijau] Klikhijau.com - Indonesia memiliki 3,5 juta hektar hutan mangrove. Salah satunya ada Sulawesi Tenggara. Luasnya tersebar di bebe...

Rusaknya Hutan Mangrove dan Teluk Tembe di Kembar Maminasa
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Mereka menyambung napas dengan mencari siput laut. Seperti kepiting dan karang-karangan yang hidup di sana sebagai bahan makanan mereka.

Rusaknya kawasan mangrove tersebut, membuat masyarakat sekitar juga merasakan dampak panas akibat sengatan matahari.

Sebab tidak adanya atau berkurangnya serapan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh masyarakat setempat. Berkurangnya juga oksigen yang dikeluarkan oleh pohon bakau bagi tubuh manusia.

Di samping itu, masyarakat juga dibuat khawatir dengan keadaan ini. Karena hewan predator seperti buaya sering muncul di sekitar tanggul dan teluk.

Hal ini juga berdampak pada aspek ekonomi bagi masyarakat setempat. Karena menggantungkan hidupnya dengan menjual hasil-hasil bumi ke pulau-pulau yang berada di sekitar desa tersebut.

Pasalnya jika kondisi air laut surut. Mereka tidak bisa menyeberangi teluk Tembe. Kondisi perairannya sangat dangkal untuk dilewati kapal laut.

Apalagi jika kapal memiliki beban dan muatan yang banyak. Keadaan ini disebabkan oleh keadaan air teluk yang terdistribusi ke kanal-kanal galian.

Kanal itu digunakan sebagai tanggul. Dampaknya, tambak masyarakat sangat terganggu sebab harus menunggu air laut dalam keadaan pasang.

Kondisi seperti ini sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebelum adanya pembentukan tanggul tersebut.

Matinya pohon-pohon mangrove mendorong masyarakat untuk mengalih fungsikan area hutan mangrove menjadi tambak.

Penghijauan kembali

Padahal mangrove juga bisa membawa perekonomian sebagai sumber pendapatan masyarakat dari hasil nonkayu dan melalui pemanfaatan ekowisata.

Selain pembangunan tanggul sebagai salah satu perusak lingkungan mangrove dan teluk. Kontribusi masyarakat setempat juga turut andil terhadap rusaknya biota laut.

Alat yang mereka gunakan menangkap ikan dan hewan laut menggunakan bahan kimia. Hal itu mengakibatkan matinya ikan bibit serta telur-telur dan hewan laut lainnya.

Kondisi ini mengharuskan mereka untuk keluar menuju laut lepas mencari kebutuhan hidup dengan risiko yang lebih tinggi.

Ada baiknya Pemda Muna Barat mengupayakan penghijauan kembali. Sebab ini memiliki keterkaitan dengan lingkungan dan kelangsungan kehidupan manusia.

Masyarakat juga seharusnya lebih memiliki kesadaran yang lebih dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.

Agar lingkungan tetap terjaga dan bisa memberi manfaat secara berkelanjutan bagi mereka.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2