Rusaknya Hutan Mangrove dan Teluk Tembe di Kembar Maminasa

[hijau]Tanggul merentang itulah yang mencuri hijaunya mangrove[/hijau] Klikhijau.com - Indonesia memiliki 3,5 juta hektar hutan mangrove. Salah satunya ada Sulawesi Tenggara. Luasnya tersebar di bebe...

Rusaknya Hutan Mangrove dan Teluk Tembe di Kembar Maminasa
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

[hijau]Tanggul merentang itulah yang mencuri hijaunya mangrove[/hijau]
Klikhijau.com - Indonesia memiliki 3,5 juta hektar hutan mangrove. Salah satunya ada Sulawesi Tenggara. Luasnya tersebar di beberapa kabupaten.

Menurut Chemonics (1993), salah satu desa di Kecamatan Tikep, yakni Kembar Maminasa memiliki hutan mangrove yang luas.Diperkirakan kurang lebih 100 hektar. Membentang sepanjang teluk Tembe.

Sekitar 2008 dan 2009, penanaman pohon mangrove di kawasan tersebut kembali digalang oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Muna. Tujuannya untuk menghijaukan daerah yang persebaran pertumbuhan mangrovenya kurang.

Namun, pada 2013, masuk sebuah perusahaan konstruksi pembangunan tanggul untuk membendung debit air laut yang pasang. Agar tidak sampai dan naik ke daratan.

Tanggul ini dibentuk di sepanjang teluk Tembe dan perbatasan hutan mangrove dengan kawasan perkebunan serta pemukiman masyarakat di desa tersebut

Jika merefleksi pada pengalaman dan fakta-fakta di lapangan. Tahun sebelum diadakan program pembangunan tanggul. Menunjukan tidak pernah terjadi banjir air laut ke daratan di sekitar teluk.

Penyebabnya ombak air laut di sana tidak besar. Selalu terhalang pohon mangrove terlebih dahulu.

Berdasarkan kajian ilmiah menunjukan, hutan mangrove mempunyai fungsi ekologis yang penting. Seperti peredam gelombang dan angin, pelindung pantai dari abrasi, penahan lumpur. Bukan hanya itu, juga jadi penangkap sedimen yang ditangkap oleh aliran air.

Sebagai daerah asuhan dan tempat mencari makanan. Merupakan tempat pemicahan bermacam-macam biota perairan, dan sebagai penyubur perairan. Karena menghasilkan detritus dari serasah daun yang diuraikan oleh bakteri menjadi zat hara (Bengen, 2001).

Tanggul dan dampaknya bagi lingkungan

Pembangunan tanggul tersebut mengakibatkan matinya hutan mangrove di kawasan itu. Sehingga berdampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat setempat.

Di mana masyarakat yang mendiami kawasan sekitar teluk, khususnya dan Kembar Maminasa umumnya. Sebelumnya menggantungkan hidup mereka di hutan bakau tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2