Pesta Pora Pepohonan tanpa Pesta Demokrasi

Klikhijau.com – Pepohonan di pinggir jalan kembali bernapas lega. Batangnya juga kembali ke warna kodratnya. Eksotis, unik, dan mengesankan—alami tanpa dekorasi Alat Peraga Kampanye (APK) dari mereka...

Pesta Pora Pepohonan tanpa Pesta Demokrasi
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Namun, dibanding menjelang dan saat pesta demokrasi berlangsung sangat jauh perbedaannya—pepohonan tanpa ritus lima tahunan itu lebih bisa bernapas lega dan terlerai dari luka.

Perjalanan ke Makassar

Bukan hanya pepohonan di pinggir jalan poros Bulukumba-Sinjai yang berpesta pora tanpa pesta demokrasi. Tetapi, juga pepohonan di sepanjang jalan poros Bulukumba-Makassar.

Di akhir Januari tahun ini, ketika saya berkunjung ke Makassar, hal serupa pun saya temukan. Pepohonan  lebih bersih dan batangnya lebih “telanjang” sehingga para pengguna jalan leluasa menikmati keindahannya.

Meski beberapa pohon masih ditancapi banner dan lainnya. Namun, tak lagi seramai saat pesta demokrasi. Namanya pesta, selalu riuh. Banyak dekorasi yang menghiasinya. Seperti itu pula pesta demokrasi, hanya saja bukannya membuat indah pinggir jalan dan pepohonan, justru membuatnya mencemaskan.

 Dampak memaku pohon

Pohon yang kena  paku, tak hanya meninggalkan luka. Tetapi juga akan membuat pohon riskan terkena penyakit. Membuatnya lebih rapuh, sehingga kemampuannya menyerap polusi udara yang semakin menyesakkan akan berkurang.

Padahal salah satu tujuan menanam pohon di pinggir jalan, selain menghalau panas, juga untuk menyerap polusi udara.

Publikasi dengan menggunakan pohon memang terlihat murah meriah. Namun, dampaknya akan sangat mahal. Sebab, pohon akan rapuh dan pandangan pengguna juga bisa terhalang.

Memaku pohon demi popularitas bukanlah langkah bijak, sebab dapat merusak jaringan pohon, menyebabkan infeksi dan penyakit, juga dapat mengganggu sistem penyerapan nutrisi pada pohon.

Selain itu, memaku pohon juga dapat mengganggu ekosistem, pohon akan berlubang dan keropos, serta kambium dalam pohon rusak.

Bagaimanapun, paku yang ditancapkan pada pohon akan meninggalkan luka. Luka itu butuh waktu untuk sembuh. Dan bisa saja, saat luka pepohonan akan sembuh dan tertutup. Pesta demokrasi kembali datang.

Jadinya, luka itu tak pernah sembuh. Tak pernah. Dan memang begitulah sebuah pesta, tak selesai di hari H. Termasuk pesta demokrasi, luka yang ditinggalkan pada pepohonan setelah hari H-nya tak pernah sembuh, tak pernah selesai.

Jika itu semua terjadi, maka pohon akan jauh dari kata baik-baik saja dan para pengguna jalan akan terus diintai bahaya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2