Pada Sebatang Pohon Kelapa

Pohon kelapa di depan rumah terus saja berbuah. Besar dan tinggi. Ketika pertama kali berbuah,   banyak orang datang berfoto.  Ia  berbuah ketika tingginya setinggi orang dewasa yang berdiri. Mung...

Pada Sebatang Pohon Kelapa
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Pohon kelapa di depan rumah terus saja berbuah. Besar dan tinggi. Ketika pertama kali berbuah,   banyak orang datang berfoto.

 Ia  berbuah ketika tingginya setinggi orang dewasa yang berdiri. Mungkin itu yang menjadi daya tariknya.

Pohon multi guna itu  ditanam tepat di hari kelahiranku. Plasenta atau ari-ariku ditanam di bawahnya. Aku selalu ingat itu. Karena Ibu dan Ayah sering menceritakannya.

Pohon kelapa itu cepat berbuah karena ari-arimu,” kata Ibu

Mata Cimmang nanar. Ia menangis. Dipandangi lagi pohon kelapa tersebut. Lalu sedu tak tertahan. Ia rindukan ibu dan ayahnya. Rindu pada cerita pohon kelapa itu.  Ia selalu terngiang cerita orang tuanya.

Sejak kecil ia telah ditinggalkan ibu dan ayahnya. Orang taunya merantau pada entah yang ia tak tahu. Ia tak mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan dirinya. Saat itu ia belum paham arti ditinggalkan.

Sogokan mainan mobil-mobilan mampu membuatnya tak menangis. Ia kegirangan ketika ibunyanya mengatakan, “Ibu dan ayahmu pergi dulu untuk mencari pembeli mobil-mobilan yang banyak.” Saat itulah senyum rekah indah di bibir mungil bocah tiga tahun tersebut.

“Kenapa Ibu dan Ayah belum pulang, Nek? Mobil-mobilanku telah rusak,” rengeknya pada neneknya. Dua atau tiga minggu pasca orang tuanya pergi.

Rengekan itu terulang dan terulang tiap hari. Neneknya kebingungan menjawabnya. Apalagi ketika umurnya juga kian bertambah.

Pertanyaan tentang orang tuanya juga bertambah. Kebingungan neneknya pun kembali bertambah, ketika  Hadasia, dan suaminya  tak pulang selama bertahun-tahun.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2