Menyimak Suara Komunitas Tobonga Melalui Teater Pematang Sawah

Klikhijau.com – Tiba-tiba saja suara tepuk tangan dan teriakan penonton bergemuruh menyaksikan puluhan anak kecil memasuki panggung pementasan. Saya yang duduk paling depan di antara para penonton itu...

Menyimak Suara Komunitas Tobonga Melalui Teater  Pematang Sawah
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

“Judi online, game online, video vulgar adalah contoh sampah teknologi yang justru banyak yang membuat anak-anak ketagihan.”

Bukan hanya sampah teknologi yang digambarkan dalam pentas teater yang memanfaatkan sawah kering sebagai panggung utamanya. Pentas ini juga mengangkat isu sampah plastik yang menjadi polusi tanah di mana-mana.

Krisis air yang juga sudah mulai dirasakan oleh masyarakat pedesaan akibat beralih fungsinya hutan menjadi kebun. Ditambah lagi banyaknya pohon-pohon besar yang ditebang.

Yah, begitulah kisah yang digambarkan anak-anak dalam perannya, yang saya sebutkan tadi.

Sederhana tapi meriah. Begitu kegiatan ini saya gambarkan. Sederhananya karena tidak mengunakan gedung sebagai tempat pementasan. Mereka memanfaatkan alam dekorasi mulai dari pintu masuk hingga ke dalam panggung.

Sementara meriah karena dihadiri seribuan penonton. Bahkan, Wakil Bupati Sinjai, Kadispora Sinjai, anggota DPRD Sinjai, Camat Sinjai Barat, dan Kepala Desa Bonto Salama juga turut hadir mendengar suara lingkungan melalui teater.

Komunitas literasi dari berbagai daerah juga turut hadir memeriahkan Teater Pematang Sawah dan Kemah Seni dan Literasi yang dilaksanakan di Desa Bonto Salama, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2