Menyimak Suara Komunitas Tobonga Melalui Teater Pematang Sawah

Klikhijau.com – Tiba-tiba saja suara tepuk tangan dan teriakan penonton bergemuruh menyaksikan puluhan anak kecil memasuki panggung pementasan. Saya yang duduk paling depan di antara para penonton itu...

Menyimak Suara Komunitas Tobonga Melalui Teater  Pematang Sawah
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Tiba-tiba saja suara tepuk tangan dan teriakan penonton bergemuruh menyaksikan puluhan anak kecil memasuki panggung pementasan. Saya yang duduk paling depan di antara para penonton itu, gemas sesaat ketika adegan masing-masing mereka lakoni.

Saya membayangkan usaha dan kerja keras sutradara dan pelatih teater ini. Namun, itu terputus karena adegan mereka terus berlanjut. Saya tak ingin melewatkan lakon mereka hingga pementasan selesai.

Tapi bukan hanya tentang itu yang ingin saya tulis dalam artikel ini. Saya akan memulainya dengan menuliskan tema kegiatan ini – “Kanrei Resonu”.

Pendiri Komunitas Tobonga, Abidin Wakur mengungkapkan, tema kegiatan ini berarti makanlah hasil jerih payahmu secara harfiahnya.

“Namun ini adalah ungkapan umum bagi orang Bugis-Makassar yang bisa berarti ganda. Bisa sebagai ungkapan memberi selamat atas hasil usahanya yang maksimal. Bisa pula berarti umpatan atas akibat yang didapatkan oleh seseorang karena berperilaku buruk,” ungkap Abidin Wakur.

Teater Pematang Sawah tahun kedua yang dilaksanakan oleh Komunitas Tobonga ini dirangkaikan dengan Kemah Seni dan Litetasi yang berlangsung tanggal 27-29 September 2019 lalu.

Pementasan teater yang disutradarai langsung oleh pendiri Komunitas Tobonga ini, memiliki judul yang sama dengan tema kegiatannya, "(K)anrei Resonu".

Kak Abi, begitu sapaan akrabnya menambahkan “(K)anrei Resonu" dijadikan sebagai media atau suara untuk mengingatkan berbagai kalangan tentang bahaya penggunaan gadget secara berlebihan. Selain itu, teror sampah plastik di mana-mana dan krisis lingkungan serta air bersih.

“Jika semua ini diabaikan, maka tunggu saja, alam pasti akan memberi peringatan yang sangat keras,” tegasnya

Pesan teater pematang sawah

Dalam Teater Pematang Sawah, Komunitas Tobonga ingin menyampaikan bahwa sekarang ini adalah era penuh jebakan. Dengan akses internet, jendela dunia terbuka selebar-lebarnya. Apapun bisa diakses dengan mudah.

Bahkan, anak-anak yang masih belia sekalipun dengan mudah mengakses sesuatu yang harusnya jadi konsumsi orang dewasa.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2