Memperingati Hari Gunung Bulu Bawakaraeng dengan Introspeksi Diri

Klikhijau.com - Pada Tanggal 26 Maret lalu, digelar dialog publik dengan tema ‘dialog introspeksi: Mengapa Harus Gunung Bulu Bawakaraeng?’ Dialog ini diselenggarakan oleh Forum Intelektual Selatan...

Memperingati Hari Gunung Bulu Bawakaraeng dengan Introspeksi Diri
Bacakan Artikel

Sebagai mahluk, gunung turut mengambil peran bagi kehidupan di sekitarnya. Andi Yaqub membantah tuduhan bahwa Gunung merupakan benda mati. Baginya, Gunung juga memiliki kehidupannya tersendiri yang berbeda dengan manusia.

Hanya saja, kita menjadi saksi dari berbagai kerusakan di muka bumi akibat tindakan manusia sendiri. Manusia dinilai telah berbuat dzolim terhadap mahluk yang diciptakan juga untuk menyembah kepada Allah SWT.

Berbagai perbuatan manusia yang merusak Gunung Bawakaraeng seperti kunjungan massif dan sporadis ke gunung, membuang sampah di sembarang tempat, penebangan hutan hingga aktivitas yang tak sesuai peruntukkannya dianggap sebagai bentuk penyelewengan manusia dari kodratnya.

Amanah yang diberikan kepada manusia sebagai khalifah di bumi kerap berujung pada dominasi manusia kepada mahluk lainnya. Hilangnya tanggung jawab manusia disebabkan oleh cara pandang yang menganggap gunung dan mahluk lainnya sebagai objek semata. Akibatnya eksploitasi kepada alam tengah berlangsung dan kian massif.

Untuk Itu, Dr Yaqub berpesan agar manusia tak menempatkan gunung dan mahluk lainnya sebagai objek, “memosisikan diri anda dan gunung sebagai subjek,” jelasnya.

Kerusakan yang terjadi di Gunung Bulu Bawakaraeng bukan hanya mencakup kerusakan fisik dan material semata seperti sampah, pembakaran, penebangan hutan, dan lainnya. Tetapi juga kerusakan kedudukan gunung.

Kerusakan kedudukan diartikan sebagai rusaknya hal yang ‘seharusnya ada pada gunung’, Kerusakan ini mencakup segala tindakan dan perbuatan manusia yang tak sesuai dengan tujuan penciptaan Gunung Bawakaraeng.

Contohnya seperti upacara 17 Agustus di atas gunung, kunjungan massif yang bukan untuk tujuan pendidikan, dan ritual yang tak sejalan dengan nilai agama dan budaya.

Andi Yaqub menambahkan, “Untuk apa tempat itu diciptakan, kembalikan dia pada penciptaannya. Manusia harus mengembalikan sesuatu pada kedudukannya,” tegasnya.

Menjaga gunung

Meski begitu, menurutnya, menjaga gunung bukan berarti kita tak boleh mendaki ke Gunung Bawakaraeng. Mengunjungi Gunung merupakan kewajiban bagi manusia sebagai bentuk silaturahmi. Selama hal ini dilakukan sesuai dengan adab mengunjungi Gunung.

Ia menganalogikannya seperti ketika kita bertamu ke rumah orang lain. Seorang tamu tentu dituntut untuk berlaku sebagaimana etika mengunjungi rumah orang lain. Tak ada tuan rumah yang mempersilahkan tamunya merusak rumahnya.

Menjelang akhir materi, Andi Yaqub berpesan agar masyarakat dapat meretas dominasi atas gunung, dimulai dari mengganggap manusia dan gunung sebagai sesama mahluk yang diciptakan Tuhan untuk tugasnya masing-masing. “Antara gunung dan manusia, bukan ‘saya’ dan ‘itu’ tetapi ‘kami’,” jelas Andi Yaqub.

Melalui dialog ini, FISS berharap kedepannya manusia mulai merenungi segala tindakannya yang dapat berdampak lebih bagi alam, khususnya Gunung Bawakaraeng.

Selain itu, agar kedepannya gerakan perjuangan pelestarian gunung akan terus bergema dan mencapai tujuan besarnya, yakni diberikannya status cultural landscap heritage bagi gunung Bulu Bawakareng.

“Menjadikan momen peringatan hari Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai ruang introspeksi untuk setiap orang yang masih peduli terhadap gerakan perlindungan Gunung Bulu Bawakaraeng. Sekaligus menjadi pemantik gerakan selanjutnya,” lanjut Rewo.

Forum Intelektual Selatan Sulawesi juga mengharapkan dukungan publik, khususnya bagi masyarakat sekitar gunung, untuk bisa berkontribusi menandatangani petisi daring di situs change.org.

Petisi ini sebagai upaya menggalang dukungan untuk perjuangan kelestarian Gunung Bulu Bawakaraeng. Simak pula fungsi gunung bagi kehidupan di SINI!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2