Kahayya (kisah dalam kisah)

Berjalanlah ke arah tidurnya matahari! Ikuti jalan yang baru diaspal itu. Di sepanjang jalan tak ada rumah. Sepi akan menyergap. Hanya kebun kopi warga yang menggoda mata. Di ujung jalan beraspal i...

Kahayya (kisah dalam kisah)
Bacakan Artikel

Berjalanlah ke arah tidurnya matahari! Ikuti jalan yang baru diaspal itu. Di sepanjang jalan tak ada rumah. Sepi akan menyergap. Hanya kebun kopi warga yang menggoda mata.

Di ujung jalan beraspal itu ada sungai A’dungang. Dulu sungai tersebut hanya menggunakan jembatan bambu yang dianyam warga dengan gotong royong.

Waktu masih jembatan bambu itu, pernah ada seorang pemuda yang  jatuh bersama kudanya. Untung pemuda itu tak jatuh terseret ke dalam sungai, hanya kudanya saja, si Balanga. Pemuda tersebut meraung karena tidak tega berpisah dengan kuda kesayangannya.

Setelah melewati sungai. Akan ada dua hingga tiga rumah panggung warga yang menyambut selepas tanjakan. Berjalanlah terus. Lelah akan hilang dengan gurauan pemandangan yang hijau. Senyum ramah para petani akan jadi alasan untuk lebih menikmati perjalanan. Dan, perjalanan akan terus disuguhi pemandangan yang tak akan ditemui di tempat mana pun. Indah menakjubkan.

Jangan berhenti, teruslah berjalan ke arah tidurnya matahari! Jika kau datang dua puluh tahun lalu, kau akan temukan sebuah danau dan dua batang pohon beringin seperti pengantin yang sedang bersanding. Di celah akarnya mengalir air yang jernih. Ada belut jinak yang akan makan di telapak tangan para pengunjung.

Belut tersebut doyan makan telur rebus. Juga akan ditemukan beraneka ragam ikatan di batang pohon beringin tersebut. Itu ikatan janji yang mistik, sebuah mitos.

Tak jauh dari pohon beringin itu, terhampar sebuah danau yang disesaki lumut-lumut, tampak masih perawan. Dinas Pariwisata Bulukumba tak pernah menemukannya untuk dijadikan ikon wisata.

“Bagaimana, sudah jelas aku mendeskripsikan perihal kampung di arah tidurnya matahari itu? Namanya Kahayya. Sebuah desa yang baru lahir. Sebuah kampung yang dikadoi keindahan alam yang memesona. Sebuah tanah yang diabaikan.

Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun ketika kuulurkan tanya tersebut. Ia hanya mengangguk. Matanya berkabut. Sayu. Luka terlihat nyata di matanya.

“Bermalamlah di sini. Besok pagi kamu ke kampung itu,” saranku sambil menyedorkan sarung. Jika malam tiba hawa di kampungku, bersebelahan dengan kampung Kahayya, akan dingin mencekam. Selembar sarung tak akan cukup menghalau gigil setubuhi badan. Harus ditambah dengan selimut. Kuseduhkan lelaki tersebut kopi pahit yang disangrai sendiri oleh istriku. Aku ingin mengajak lelaki tersebut begadang. Ingin kucuri kisahnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2