Jumlah Hotspot Naik, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan

Klikhijau.com - Pantauan data Sipongi sejak bulan Juli sampai September 2019. Berdasarkan data akhir per 12 September 2019 Pukul 06.00 WIB dari satelit Terra/Aqua. Terpantau penurunan hotspot hanya te...

Jumlah Hotspot Naik, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Luas areal terbakar tahun 2019 itu terbagi di lahan gambut seluas 89 ribu. Dan di lahan tanah mineral seluas 239 ribu ha. Data ini mengkonfirmasi jika perlindungan areal gambut di Indonesia lebih baik karena luas areal terbakar tidak didominasi pada areal gambut yang sulit dipadamkan melainkan di tanah-tanah mineral yang relatif lebih mudah dipadamkan.

Kemudian ditambahkan oleh BMKG untuk dua bulan ke depan jika pada bulan Oktober hingga pertengahan bulan November kondisi terjadinya hotspot masih cukup tinggi, BMKG bersama BNPB telah bersiap melakukan hujan buatan. Bibit-bibit awan sudah mulai ada, sehingga sudah bisa dilakukan pembuatan hujan buatan.

Di Riau dan Palembang sudah dilakukan pembuatan hujan buatan, untuk Kalimantan Barat masih menunggu terbentuknya bibit awan guna penyemaian garam untuk hujan buatan.

Kegiatan modifikasi cuaca (TMC) dengan pembuatan hujan buatan hingga tanggal 6 September 2019 telah dilakukan 207 kali sorti dengan jumlah garam yang ditaburkan mencapai 160.816 kg.

Lalu untuk Penegakan hukum, KLHK bekerja sama dengan Kepolisian RI. Telah melakukan upaya penegakan hukum kepada perusahaan yang diduga lalai dalam menjaga arealnya dari kebakaran.

Ada total 18 perusahaan yang telah disegel arealnya, rinciannya di Kalimantan Barat sebanyak 10 perusahaan. Di Jambi 1 perusahaan, di Riau ada 3 perusahaan dan di Kalimantan Tengah ada 4 perusahaan.(*)

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2