GreenFaith Bangun Kesadaran Komunitas Agama, Beraksi untuk Keadilan Iklim

Klikhijau.com - Krisis iklim yang melanda dunia saat ini, membutuhkan lebih banyak lagi orang-orang dan organisasi yang peduli, kritis, dan dapat mengambil peran untuk mencegah laju kehilangan dan ker...

GreenFaith Bangun Kesadaran Komunitas Agama, Beraksi untuk Keadilan Iklim
Bacakan Artikel

Menurutnya, semangat Golden Age adalah semangat keilmuan untuk bisa memahami permasalahan itu dari sisi agama.

Qaris menekankan melalui ilmu pengetahuan, peran manusia sangat besar untuk mencegah perubahan iklim. Ia kemudian menjelaskan makna kata Rabb di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 30 yang artinya adalah Tuhan Yang Menumbuhkan, Menciptakan, Merawat, dan kata Khalifah di ayat tersebut yang berarti Pengganti, Penerus, atau Pelanjut.

“Kata “pelanjut”-nya adalah untuk Tuhan yang Merawat, bukan untuk Tuhan yang Berkuasa, sehingga tugas khalifah di sini bukan menguasai makhluk lain, tugasnya khalifah adalah merawat makhluk lainnya,” jelasnya.

Pelatihan dilanjut dengan materi Loss and Damage: Kejahatan Lintas Rezim pada Sektor Sumberdaya Alam dan Lingkungan, disampaikan Direktur Eksekutif WALHI, Zenzi Suhadi.

“Perubahan iklim terjadi karena terjadi perubahan ekosistem yang mengalami kerusakan permanen dari sisi material dan sistem,” kata Zenzi.

Perubahan ekosistem ini, kata Zenzi, dipengaruhi oleh sistem dan kebijakan politik dan ekonomi.

“Kelompok yang paling rentan adalah mereka sudah kehilangan peradabannya dan menghadapi sistem alam yang hancur. Sehingga tuntutan kita, bagaimana negara bisa memulihkan sistem yang rusak dan memperkuat masyarakat agar mampu menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi,” terangnya.

Untuk mendorong upaya pemulihan ekosistem, kata Zenzi perlu dorongan kelompok beriman yang ditransformasi dalam sikap politik. “Karena kehancuran yang ada berawal dari keputusan politik. Keputusan politik negara akan bisa berubah kalau ada tuntutan politik dari ummat,” pungkas Zenzi.

Parid Ridwanuddin dari WALHI Nasional, menyampaikan materi berikutnya tentang Kolonialisme dan Krisis Iklim. “Kolonialisme ialah kontrol atau penguasaan oleh satu kekuatan atas wilayah atau orang yang bergantung padanya,” terangnya.

Menurut Parid, kolonialisme bekerja jika ada narasi kebijakan yang berkembang, ada jaringan yang menghubungkan antar aktor satu dengan yang lainnya, dan ada aktor politik dan kepentingan.

“Negara-negara penghasil emisi terbesar di dunia, Perusahaan multinasional penghasil emisi, dan orang-orang kaya dunia punya tanggungjawab atas emisi yang mereka produksi,” terangnya.

Sementara Nana Firman, Senior Ambassador GreenFaith Internasional, menyampaikan materi berikutnya tentang Islam and Climate Justice dan menekankan kenaikan suhu 1 derajat Celsius akan berdampak besar bagi perubahan iklim dan kehidupan di Bumi.

Karena itu Nana mengajak agar para peserta bersama dengan organisasi atau komunitasnya turut berpikir kritis dan mengambil peran untuk mengubah sistem.

“Siapa yang bertanggungjawab terhadap krisis iklim ini? Mari kita kaji akar permasalahannya. Kemudian apa yang harus diubah? Sistemnya yang harus diubah, mengubahnya dengan apa, jika tidak berjalan, menjalankannya bagaimana, apa alternatifnya?” ungkapnya memantik diskusi.

Lebih lanjut, Nana mengajak peserta untuk kembali membaca atau Iqra’ pada ajaran Al Qur’an dan Sunnah. “There is no planet B. Karena Rasulullah bilang, jagalah bumi ini, karena bumi ini adalah ibumu. Siapa yang harus dimuliakan? Ibumu, ibumu, dan ibumu,” pungkas Nana.

Kegiatan yang difasilitasi David Effendi dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHPB) PP Muhammadiyah ini berakhir dengan rencana aksi para peserta secara individu dan bersama dengan komunitasnya. Para peserta selanjutnya akan mendapatkan pembekalan untuk membuat kampanye yang efektif pada Februari 2024.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2