Deforestasi Menyeret Kota Pesisir ke Ujung Tanduk

Klikhijau.com – Kebebalan manusia yang enggan puasa melakukan deforestasi. Membawa dampak buruk (badai) yang tak terkira dalam jangka panjang. Memang sekilas aktivitas tersebut menguntungkan secara...

Deforestasi Menyeret  Kota Pesisir ke Ujung Tanduk
Bacakan Artikel

Para ahli menganalisis tiga dekade data satelit di Afrika Barat untuk menyelidiki bagaimana deforestasi mungkin telah mengubah pola cuaca.

Hasil analisis yang mereka dapatkan menunjukkan bahwa penebangan kawasan hutan yang luas telah sangat meningkatkan pemanasan global dan aktivitas badai di sepanjang wilayah pesisir, di antaranya Guinea, Sierra Leone, Liberia, Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria.

Di daerah tersebut  hutan telah dibuka, frekuensi badai petir berlipat ganda selama dua dekade terakhir. Kawasan berhutan mengalami peningkatan aktivitas badai hanya sebesar 40 persen.

“Tingkat peningkatan aktivitas badai pesisir kemungkinan akan bervariasi di berbagai wilayah, tergantung pada iklim lokal, tetapi kami memperkirakan deforestasi memiliki efek yang sama di wilayah deforestasi pesisir lainnya,” kata Profesor Chris Taylor dari Pusat Ekologi Inggris dan Hidrologi .

Taylor menegaskan, sekitar 40 persen populasi dunia tinggal dalam jarak 100 km dari pantai, sehingga peningkatan banjir bandang menyebabkan gangguan pada jutaan kehidupan orang.

“Oleh karena itu, temuan kami memberikan peringatan bagi kota-kota pesisir yang tumbuh cepat di seluruh dunia,” ungkapnya.

Memperburuk dampak iklim

Dengan adanya fenomena itu, banyak masyarakat yang paling terkena dampak deforestasi dan perubahan iklim lokal berikutnya memiliki infrastruktur yang tidak dilengkapi untuk menangani banjir besar.

Earth mengungkapkan bahwa di tempat-tempat seperti Freetown, ibu kota Sierra Leone, badai yang semakin sering dan curah hujan yang sangat deras tentu akan menyebabkan bencana ekstrem yang lebih dahsyat, termasuk banjir dan tanah longsor yang mematikan.

“Deforestasi memperburuk dampak perubahan iklim di beberapa kota yang paling tidak tahan banting di Bumi. Itu membuat komunitas ini lebih sulit untuk mengatasi peristiwa cuaca ekstrem,” kata Profesor Taylor.

Hasil penelitian tersebut, harusnya membuka mata kita betapa  deforestasi dan perubahan iklim semakin nyata dan dekat

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2