Benarkah Instagram Media Paling Buruk Bagi Kesehatan Mental, Bagaimana Mengatasinya?

Klikhijau.com - Survei tahun 2017 lalu yang dilakukan pada  1500 anak muda di Inggris, menunjukkan bahwa Instagram menjadi media sosial paling buruk bagi kesehatan mental. Ia meningkatkan kecemasan, d...

Benarkah Instagram Media Paling Buruk Bagi Kesehatan Mental, Bagaimana Mengatasinya?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Jika dalam beberapa minggu mulai merindukan postingan dari akun tersebut, kita bisa memfollownya kembali.

“Kebanyakan dari kita mulai menyadari bahwa akun tersebut tidak sehat, ketika berani meng-unfollownya.  Itu merupakan bagian dari kesadaran diri,” kata Weinstein.

Ketika sudah tahu mana akun yang membuat bahagia, selanjutnya kita pasti akan mencari konten serupa. Bagi beberapa orang, akun meme atau yang sesuai hobi seperti travelling dan seni bisa memberikan kebahagiaan.



  • Ingatkan pada diri sendiri bahwa apa yang ditampilkan belum tentu sesuai dengan kenyataan



Tentu kita tahu bahwa Instagram merupakan “penyaringan” dari versi nyatanya. Namun, tetap saja sulit menjaga pemikiran ini ketika scrolling Instagram.

Dalam studinya, Weinstein menemukan fakta bahwa tingkah laku kita saat bermain Instagram mempengaruhi hasil akhirnya.

Mereka yang menyadari bahwa foto-foto di Instagram tidak semudah yang terlihat, cenderung memiliki emosi yang lebih positif setelah melihatnya, dibanding remaja yang membandingkan dirinya dengan orang lain.

Kebanyakan dari kita mulai menyadari bahwa akun tersebut tidak sehat, ketika berani meng-unfollownya.  Itu merupakan bagian dari kesadaran diri,” kata Weinstein.



  • Follow akun positif



Ketika sudah tahu mana akun yang membuat bahagia, selanjutnya kita pasti akan mencari konten serupa. Bagi beberapa orang, akun meme atau yang sesuai hobi seperti travelling dan seni bisa memberikan kebahagiaan.


  • Posting, like dan komentar lebih sering



Kita lebih sering menghabiskan waktu di media sosial hanya dengan menatapnya dibanding membuat konten sendiri.

Sebuah studi menunjukkan bahwa pengguna pasif cenderung lebih sering melakukan perbandingan sosial dan merasa iri, daripada pengguna aktif yang sering menciptakan keterhubungan melalui posting-nya.

“Melihat foto orang lain di Instagram hanya membuat kita merasa hidup mereka lebih baik. Untuk menghindarinya, terhubunglah dengan mereka: share foto sendiri.

Atau like dan komentari postingan mereka,” kata Philippe Verduyn, pemimpin penelitian tersebut dan asisten profesor psikologi di Maastricht University.



  • Tanya “mengapa?”



Kadang kita terlalu lama menghabiskan waktu di Instagram. Menurut Oscar Ybarra, profesor psikologi di University of Michigan, penting untuk menganalisis pentingnya alasan mengapa kita sering membuka Instagram.

“Orang-orang perlu bertanya kembali alasan mereka menggunakan Instagram. Tanyakan 'mengapa' berkali-kali ke diri sendiri. Dengan begitu, kita jadi lebih sadar saat membuka media sosial tersebut,” paparnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2