Akademisi Unkhair Ternate Soroti Ancaman Kerusakan Lingkungan di Pesisir

Klikhijau.com - Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kini menghadapi ancaman yang semakin nyata dan kompleks. Dalam sebuah webinar bertajuk “Kolaborasi Memitigasi Ancaman Kerusakan Lingkungan di Kawa...

Akademisi Unkhair Ternate Soroti Ancaman Kerusakan Lingkungan di Pesisir
Bacakan Artikel

Faktor manusia tak kalah destruktif. Dalam presentasi disebutkan beberapa penyebab utama kerusakan dari sisi antropogenik, di antaranya adalah masuknya polutan ke perairan (pestisida, limbah rumah tangga, plastik, tumpahan minyak, limbah industri), praktik penambangan karang, penebangan pohon mangrove untuk kayu bakar, hingga reklamasi pantai yang tidak berwawasan lingkungan.

Akibat dari semua faktor ini, muncul berbagai dampak ekologis, sosial, dan budaya yang signifikan. Secara ekologis, kerusakan pada ekosistem pesisir menyebabkan hancurnya terumbu karang, degradasi padang lamun, dan hilangnya habitat mangrove. “Hilangnya ekosistem ini tentu memengaruhi keseimbangan rantai makanan, mengurangi keanekaragaman hayati laut, dan meningkatkan kerentanan wilayah pesisir terhadap bencana seperti abrasi” Ujarnya.

Dampak sosial pun tak kalah mengkhawatirkan. “Masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut terancam kehilangan mata pencaharian. Nelayan kecil misalnya, mengalami penurunan hasil tangkapan akibat rusaknya ekosistem laut. Situasi ini memicu ketimpangan sosial dan bisa berujung pada konflik antarwarga yang berebut sumber daya yang semakin langka” Tambahnya.

Di sisi lain, Dr. Abdul Motalib Angkotasan juga menjelaskan dampak budaya sering kali luput dari perhatian. “Berbagai kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir perlahan hilang. Tradisi-tradisi yang sejak lama menjaga keharmonisan manusia dan alam mulai ditinggalkan, tergantikan oleh praktik eksploitasi yang lebih mementingkan keuntungan jangka pendek”.

Kerusakan pesisir tidak datang tiba-tiba, dan bentuknya pun beragam. Setidaknya ada lima ancaman serius kerusakan lingkungan di kawasan pesisir yang dibeberkan dalam webinar. Pertama, abrasi pantai, yaitu pengikisan garis pantai akibat gelombang laut, pasang surut, dan perubahan iklim. Kedua, pencemaran perairan, yang mencemari habitat laut dengan limbah dan zat kimia berbahaya. Ketiga, kerusakan ekosistem terumbu karang akibat praktik penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan bom atau sianida. Keempat, kerusakan padang lamun, habitat penting bagi biota laut seperti dugong dan penyu. Dan terakhir, kerusakan hutan mangrove, yang berperan besar dalam menjaga kestabilan garis pantai dan menjadi tempat bertelur bagi berbagai spesies ikan.

“Dari berbagai fakta yang dipaparkan, jelas bahwa tantangan besar tengah dihadapi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Webinar ini tak hanya memberikan peringatan, tetapi juga menjadi ajakan untuk bertindak. Perlindungan wilayah pesisir dan pulau kecil tak bisa ditunda. Ia memerlukan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan, partisipasi aktif masyarakat, serta kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga ekosistem yang menjadi benteng alami bagi kehidupan manusia,” pungkas alumni IPB ini.

Ancaman kerusakan lingkungan ini bukan hanya masalah ekologis, tetapi juga soal keadilan sosial dan tanggung jawab antar generasi. Jika dibiarkan, kita tak hanya kehilangan daratan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga warisan budaya yang selama ini menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Sudah saatnya bergerak sebelum semuanya terlambat.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2